<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bidan Desa</title>
	<atom:link href="http://www.bidandesa.tk/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bidandesa.tk</link>
	<description>Informasi Keperawatan dan Kebidanan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Nov 2011 10:26:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan pada Pasie Benigna Prostat Hipertropi (BPH &#124; Hipertropi Prostat</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-pasie-benigna-prostat-hipertropi-bph/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-pasie-benigna-prostat-hipertropi-bph/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 10:26:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Anatomi Fisiologi]]></category>
		<category><![CDATA[askep bph]]></category>
		<category><![CDATA[askep hiperplasia prostat]]></category>
		<category><![CDATA[askep hipertropi]]></category>
		<category><![CDATA[askep hipertropi prostat]]></category>
		<category><![CDATA[Asli]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan bph]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah]]></category>
		<category><![CDATA[benigna prostat hipertropi]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[Biji]]></category>
		<category><![CDATA[Dinding]]></category>
		<category><![CDATA[Hiperplasia]]></category>
		<category><![CDATA[hipertropi prostat]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi traktus urinarius]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan]]></category>
		<category><![CDATA[Kelen]]></category>
		<category><![CDATA[Kenari]]></category>
		<category><![CDATA[Mc Neal]]></category>
		<category><![CDATA[obstruksi uretra pada kucing]]></category>
		<category><![CDATA[Otot Polos]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi hipertrofi prostat]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi pembesaran kelenjar prostat]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian fistula]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian perawat]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit hipertropi prostat]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[Pertumbuhan Sel]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan ginjal pada neonatus]]></category>
		<category><![CDATA[Proses Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Prostat]]></category>
		<category><![CDATA[prostat hipertropi]]></category>
		<category><![CDATA[Sisi]]></category>
		<category><![CDATA[Spincter]]></category>
		<category><![CDATA[Sutomo]]></category>
		<category><![CDATA[Testis]]></category>
		<category><![CDATA[traktus urinarius]]></category>
		<category><![CDATA[transabdominal ultrasonografi]]></category>
		<category><![CDATA[Uretra]]></category>
		<category><![CDATA[Usia Lanjut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH) A. Pengertian Hipertropi Prostat Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Jong, Wim de, 1998). Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><strong>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH)</strong></h1>
<p><strong>A. Pengertian Hipertropi Prostat</strong></p>
<p><a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/11/prostate.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-169" title="prostate" src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/11/prostate-150x150.jpg" alt="prostate" width="150" height="150" /></a><i>Hipertropi Prostat</i> adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak  jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Jong,  Wim de, 1998).</p>
<p>Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah  pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi  beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar /  jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars  prostatika (Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193).<br />
<strong>B. Etiologi Hipertropi Prostat</strong></p>
<p>Penyebab  terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti.  Tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat  Hypertropi yaitu testis dan usia lanjut.</p>
<p>Ada beberapa teori mengemukakan mengapa kelenjar periurethral dapat mengalami hiperplasia, yaitu :</p>
<p>Teori Sel Stem (Isaacs 1984)<br />
Berdasarkan  teori ini jaringan prostat pada orang dewasa berada pada keseimbangan  antara pertumbuhan sel dan sel mati, keadaan ini disebut steady state.  Pada jaringan prostat terdapat sel stem yang dapat berproliferasi lebih  cepat, sehingga terjadi hiperplasia kelenjar periurethral.</p>
<p>Teori MC Neal (1978)<br />
Menurut  MC. Neal, pembesaran prostat jinak dimulai dari zona transisi yang  letaknya sebelah proksimal dari spincter eksterna pada kedua sisi  veromontatum di zona periurethral.<br />
<strong>C. Anatomi Fisiologi Hipertropi Prostat</strong></p>
<p>Kelenjar  proatat adalah suatu jaringan fibromuskular dan kelenjar grandular yang  melingkari urethra bagian proksimal yang terdiri dari kelnjar majemuk,  saluran-saluran dan otot polos terletak di bawah kandung kemih dan  melekat pada dinding kandung kemih dengan ukuran panjang : 3-4 cm dan  lebar : 4,4 cm, tebal : 2,6 cm dan sebesar biji kenari, pembesaran pada  prostat akan membendung uretra dan dapat menyebabkan retensi urine,  kelenjar prostat terdiri dari lobus posterior lateral, anterior dan  lobus medial, kelenjar prostat berguna untuk melindungi spermatozoa  terhadap tekanan yang ada uretra dan vagina. Serta menambah cairan  alkalis pada cairan seminalis.<br />
<strong>D. Patofisiologi Hipertropi Prostat</strong></p>
<p>Menurut  Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara  perlahan-lahan pada traktus urinarius. Pada tahap awal terjadi  pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang  mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian  detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat.</p>
<p>Sebagai akibatnya  serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor  ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai  (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa  vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga  terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan  apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase  kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan  akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk  kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada  hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.<br />
<strong>E. Tanda dan Gejala Hipertropi Prostat</strong></p>
<ul>
<li>Hilangnya kekuatan pancaran saat miksi (bak tidak lampias)</li>
<li>Kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih.</li>
<li>Rasa nyeri saat memulai miksi/</li>
<li>Adanya urine yang bercampur darah (hematuri).</li>
</ul>
<p><strong>F. Komplikasi Hipertropi Prostat</strong></p>
<ul>
<li>Aterosclerosis</li>
<li>Infark jantung</li>
<li>Impoten</li>
<li>Haemoragik post operasi</li>
<li>Fistula</li>
<li>Striktur pasca operasi &amp; inconentia urine</li>
</ul>
<p><strong>G. Pemeriksaan Diagnosis Hipertropi Prostat</strong></p>
<ol>
<li>Laboratorium
<p>Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas dan biakan urin.</li>
<li>RadiologisIntravena  pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct Scanning, cystoscopy,  foto polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila  fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara trans  abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi),  selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula  menentukan volume buli-buli, mengukut sisa urine dan keadaan patologi  lain seperti difertikel, tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong,  1997).</li>
<li>Prostatektomi Retro PubisPembuatan  insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka, hanya  ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada  anterior kapsula prostat.</li>
<li>Prostatektomi Parineal
<p>Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.</li>
</ol>
<p><strong>H. Penatalaksanaan Hipertropi Prostat</strong></p>
<ol>
<li>Non Operatif
<ul>
<li>Pembesaran hormon estrogen &amp; progesteron</li>
<li>Massase prostat, anjurkan sering masturbasi</li>
<li>Anjurkan tidak minum banyak pada waktu yang pendek</li>
<li>Cegah minum obat antikolinergik, antihistamin &amp; dengostan</li>
<li>Pemasangan kateter.</li>
</ul>
</li>
<li>Operatif<br />
Indikasi : terjadi pelebaran kandung kemih dan urine sisa 750 ml</p>
<ul>
<li>TUR (Trans Uretral Resection)</li>
<li>STP (Suprobic Transersal Prostatectomy)</li>
<li>Retropubic Extravesical Prostatectomy)</li>
<li>Prostatectomy Perineal</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2><strong>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH)</strong></p>
<p><strong>A. Pengkajian </strong>Hipertropi Prostat</h2>
<ol>
<li>Data subyektif :
<ul>
<li>Pasien mengeluh sakit pada luka insisi.</li>
<li>Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.</li>
<li>Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan.</li>
<li>Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.</li>
</ul>
</li>
<li>Data Obyektif :
<ul>
<li>Terdapat luka insisi</li>
<li>Takikardi</li>
<li>Gelisah</li>
<li>Tekanan darah meningkat</li>
<li>Ekspresi w ajah ketakutan</li>
<li>Terpasang kateter</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p><strong>B. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul </strong><u>Hipertropi Prostat</u></p>
<ol>
<li>Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter</li>
<li>Kurang pengetahuan : tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi</li>
<li>Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan</li>
</ol>
<p><strong>C. Intervensi </strong>Hipertropi Prostat</p>
<ol>
<li><strong>Diagnosa Keperawatan 1. :</strong><br />
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter</p>
<p><strong>Tujuan :</strong><br />
Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.</p>
<p><strong>Kriteria hasil :</strong></p>
<ul>
<li>Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang.</li>
<li>Pasien dapat beristirahat dengan tenang.</li>
</ul>
<p><strong>Intervensi :</strong></p>
<ul>
<li>Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 &#8211; 10)</li>
<li>Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.</li>
<li>Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)</li>
<li>Beri ompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah.</li>
<li>Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)</li>
<li>Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi</li>
<li>Lakukan perawatan aseptik terapeutik</li>
<li>Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Diagnosa Keperawatan 2. :</strong><br />
Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi</p>
<p><strong>Tujuan :</strong><br />
Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .</p>
<p><strong>Kriteria hasil :</strong></p>
<ul>
<li>Klien akan melakukan perubahan perilaku.</li>
<li>Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.</li>
<li>Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan.</li>
</ul>
<p><strong>Intervensi :</strong></p>
<ul>
<li>Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu.</li>
<li>Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.</li>
<li>Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.</li>
<li>Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.</li>
<li>Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Diagnosa Keperawatan 3. :</strong><br />
Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan</p>
<p><strong>Tujuan :</strong><br />
Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi</p>
<p><strong>Kriteria hasil :</strong></p>
<ul>
<li>Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.</li>
<li>Klien mengungkapan sudah bisa tidur.</li>
<li>Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.</li>
</ul>
<p><strong>Intervensi :</strong></p>
<ul>
<li>Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.</li>
<p>Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan.</p>
<li>Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.</li>
<li>Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri (analgesik).</li>
</ul>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.</p>
<p>Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.</p>
<p>Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.</p>
<p>Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya</p>
<p>Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.</li>
</ol>
<h3><strong>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH)</strong></h3>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/askep-bph/"  title="askep BPH">askep BPH</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/hipertropi-prostat/"  title="hipertropi prostat">hipertropi prostat</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/pengertian-perawat/"  title="pengertian perawat">pengertian perawat</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/transabdominal-ultrasonografi/"  title="transabdominal ultrasonografi">transabdominal ultrasonografi</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/askep-hipertropi/"  title="askep hipertropi">askep hipertropi</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan pada Pasie Benigna Prostat Hipertropi (BPH</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-untuk-gagal-ginjal-akut/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/Gagal-ginjal-Akut-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Untuk Gagal Ginjal Akut" title="Asuhan Keperawatan Untuk Gagal Ginjal Akut" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-untuk-gagal-ginjal-akut/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Untuk Gagal Ginjal Akut</a></h4><p>Gagal ginjal akut (GGA) atau Cedera Ginjal Akut (AKI) adalah kerusakan atau penurunan dengan cepat dari fungsi ginjal akibat kerusakan ginjal, sehingga dalam retensi nitrogen ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-eklamsia-post-partum/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/pre+eklamsia+kehamilan-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum" title="Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-eklamsia-post-partum/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum</a></h4><p>Pengertian Eklamsia adalah Penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam nifas dengan hipertensi, oedema dan proteinuria (Obtetri Patologi,R. Sulaeman Sastrowinata, 1981 ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/sinusitis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis" title="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis</a></h4><p>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis A. Pengertian Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. B. Etiologi Rinogen Obstruksi dari ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bronkiektasis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" title="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru) A. Pengertian Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/nifas-150x150.jpg" alt="Infeksi Masa Nifas" title="Infeksi Masa Nifas" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/"  rel="bookmark">Infeksi Masa Nifas</a></h4><p>Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman – kuman ke dalam alat – alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-pasie-benigna-prostat-hipertropi-bph/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Halusinasi</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-halusinasi/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-halusinasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 22:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Akustik]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada kebutaan]]></category>
		<category><![CDATA[Bauan]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunga]]></category>
		<category><![CDATA[Delirium]]></category>
		<category><![CDATA[Evaluasi]]></category>
		<category><![CDATA[gambar pasien dengan isolasi sosial]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi pendengaran]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil]]></category>
		<category><![CDATA[isolasi sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Kadang Kadang]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimat]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenyan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Keras]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Pasca]]></category>
		<category><![CDATA[Pemandangan]]></category>
		<category><![CDATA[Penggunaan Alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanyaan]]></category>
		<category><![CDATA[Proses Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Tadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Halusinasi A. Pengertian Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) pasca indera tanpa adanyarangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik. Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-halusinasi/" title="asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-halusinasi" >Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Halusinasi</a></h1>
<p style="text-align: justify;">A.  Pengertian</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/schizophrenia.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-161" title="halusinasi" src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/schizophrenia-150x150.jpg" alt="halusinasi" width="150" height="150" /></a><strong>Halusinasi</strong> adalah gangguan pencerapan (persepsi) pasca indera tanpa  adanyarangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system penginderaan  di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><i>Halusinasi</i> merupakan bentuk yang  paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk <u>halusinasi</u> ini bisa berupa  suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa  kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna.  Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai   keadaan pasien sedih atau  yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau  bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti  bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia  menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya   bergerak-gerak.  Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau  diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadang-kadang menyenangkan misalnya  bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut May Durant Thomas (1991)  halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa  seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan  dengan penggunaan alkohol dan substansi lingkungan. Berdasarkan hasil  pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa ditemukan 85% pasien dengan  kasus halusinasi. Sehingga penulis merasa tertarik untuk menulis kasus  tersebut dengan pemberian Asuhan Keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.</p>
<p style="text-align: justify;">B.   Klasifikasi Halusinasi</p>
<p style="text-align: justify;">Klasifikasi halusinasi sebagai berikut :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Halusinasi  dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang  membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada  suara di sekitarnya.</li>
<li>Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada.</li>
<li>Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang  di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti  bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya.</li>
<li>Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan  dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa  di mulutnya.</li>
<li>Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang  bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab  ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi  heptik.</li>
</ol>
<div style="text-align: justify;">
<p>C.   Etiologi Halusinasi</p>
<p>Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada  klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan  delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan  alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan  epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi  juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang  meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik,  sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi  sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada  saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi,  perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya  permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara  spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya  seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor  pencetusnya adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah  sumber-sumber koping dan mekanisme koping.</p>
<p>D.   Psikopatologi Halusinasi</p>
<p>Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak  teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik,  fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan  terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang  datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh. Input ini akan  menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar.Bila input  ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada  keadaan normal atau patologis, maka materi-materi yang ada dalam  unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi.<br />
Pendapat lain mengatakan bahwa  halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke  unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya  daya menilai realitas maka keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam  bentuk stimulus eksterna.</p>
<p>E.   Tanda dan Gejala Halusinasi</p>
<p>Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan  duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum  atau bicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain,  gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga  keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang di alaminya (apa  yang di lihat, di dengar atau di rasakan).</p>
<p>F.   Penatalaksanaan Halusinasi</p>
<p>Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :</p>
<ol>
<li> Menciptakan lingkungan yang terapeutik<br />
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien  akibat halusinasi,  sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan  secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa  pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara  fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati  pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya  hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di  lakukan.<br />
Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang  perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas,  misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.</li>
<li> Melaksanakan program terapi dokter<br />
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan  rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara  persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di  berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.</li>
<li> Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada<br />
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat  menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi  serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga  dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat  dengan pasien.</li>
<li> Memberi aktivitas pada pasien<br />
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik,  misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini  dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk  hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan  memilih kegiatan yang sesuai.</li>
<li> Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan<br />
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data  pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses  keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila  sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila  ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas.  Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri  dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di  beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan  pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.</li>
</ol>
<h2>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Halusinasi</h2>
<p>A.  Pengkajian Halusinasi<br />
Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini yaitu :</p>
<ol>
<li> Faktor predisposisi.<br />
Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang  dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik  dari pasien maupun keluarganya, mengenai factor perkembangan sosial  kultural, biokimia, psikologis dan genetik yaitu factor resiko yang  mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh  individu untuk mengatasi stress.&nbsp;</p>
<ul>
<li> Faktor Perkembangan<br />
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan  interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stress dan  kecemasan.</li>
<li>Faktor Sosiokultural<br />
Berbagai faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seorang merasa  disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien di besarkan.<br />
Faktor Biokimia<br />
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan adanya  stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan  dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia  seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP).</li>
<li>Faktor Psikologis<br />
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda  yang bertentangan dan sering diterima oleh anak akan mengakibatkan  stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi  realitas.</li>
<li>Faktor genetik<br />
Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui, tetapi  hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang  sangat berpengaruh pada penyakit ini.</li>
</ul>
</li>
<li> Faktor Presipitasi<br />
Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan,  ancaman / tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya  rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam  kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada dilingkungan  juga suasana sepi / isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya  halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan  yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.</li>
<li> Perilaku<br />
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,  perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, prilaku merusak diri, kurang  perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan  keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 mencoba  memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan  seorang individu sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur  bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari dimensi  yaitu :&nbsp;</p>
<ul>
<li> Dimensi Fisik<br />
Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi rangsang  eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi dapat  ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar  biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi  alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.</li>
<li> Dimensi Emosional<br />
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat  diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi  dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi  menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat  sesuatu terhadap ketakutan tersebut.</li>
<li> Dimensi Intelektual<br />
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan  halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya  halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang  menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang  dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol  semua prilaku klien.</li>
<li> Dimensi Sosial<br />
Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya  kecenderungan untuk menyendiri.  Individu asyik dengan halusinasinya,  seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi  sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia  nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem control oleh individu tersebut,  sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang  lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek penting dalam  melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu  proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang  memuaskan, serta mengusakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu  berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.</li>
<li> Dimensi Spiritual<br />
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga interaksi  dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Pada individu  tersebut cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi,  individu tidak sadar dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem  kontrol dalam individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya  individu kehilangan kontrol kehidupan dirinya.</li>
</ul>
</li>
<li> Sumber Koping<br />
Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang.  Individu dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber  koping dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk  menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat  membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress  dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.</li>
<li> Mekanisme Koping<br />
Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya  penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan  untuk melindungi diri.</li>
</ol>
<div>B.  Diagnosa Keperawatan Yang Muncul Halusinasi</div>
<ol>
<li> Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi.</li>
<li> Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri</li>
<li> Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.</li>
</ol>
<p>C.  Intervensi Halusinasi<br />
Diagnoasa 1.:<br />
Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi<br />
Tujuan : Tidak terjadi perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain.<br />
Kriteria Hasil :</p>
<ol>
<li> Pasien dapat mengungkapkan perasaannya dalam keadaan saat ini secara verbal.</li>
<li> Pasien dapat menyebutkan tindakan yang biasa dilakukan  saat halusinasi, cara memutuskan halusinasi dan melaksanakan cara yang  efektif bagi pasien untuk digunakan</li>
<li> Pasien dapat menggunakan keluarga pasien untuk mengontrol halusinasi dengan cara sering berinteraksi dengan keluarga.</li>
</ol>
<p>Intervensi :</p>
<ul>
<li> Bina Hubungan saling percaya</li>
<li> Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya.</li>
<li> Dengarkan ungkapan klien dengan empati</li>
<li> Adakan kontak secara singkat tetapi sering secara bertahap (waktu disesuaikan dengan kondisi klien).</li>
<li> Observasi tingkah laku : verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi.</li>
<li> Jelaskan pada klien tanda-tanda halusinasi dengan menggambarkan tingkah laku halusinasi.</li>
<li> Identifikasi bersama klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi, isi, waktu, frekuensi.</li>
<li> Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya saat alami halusinasi.</li>
<li> Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan bila sedang mengalami halusinasi.</li>
<li> Diskusikan cara-cara memutuskan halusinasi</li>
<li> Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan cara memutuskan halusinasi yang sesuai dengan klien.</li>
<li> Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok</li>
<li> Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga ketika mengalami halusinasi.</li>
<li> Diskusikan dengan klien tentang manfaat obat untuk mengontrol halusinasi.</li>
<li> Bantu klien menggunakan obat secara benar.</li>
</ul>
<p>Diagnosa 2.:<br />
Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri<br />
Tujuan  :  Klien mampu mengontrol halusinasinya<br />
Kriteria Hasil :</p>
<ol>
<li>Pasien dapat dan mau berjabat tangan.</li>
<li>Pasien mau menyebutkan nama, mau memanggil nama perawat dan mau duduk bersama.</li>
<li>Pasien dapat menyebutkan penyebab klien menarik diri.</li>
<li>Pasien mau berhubungan dengan orang lain.</li>
<li>Setelah dilakukan kunjungan rumah klien dapat berhubungan secara bertahap dengan keluarga</li>
</ol>
<p>Intervensi :</p>
<ul>
<li> Bina hubungan saling percaya.</li>
<li> Buat kontrak dengan klien.</li>
<li> Lakukan perkenalan.</li>
<li> Panggil nama kesukaan.</li>
<li> Ajak pasien bercakap-cakap dengan ramah.</li>
<li> Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya<br />
serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaan penyebab pasien tidak mau bergaul/menarik diri.</li>
<li> Jelaskan pada klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta yang mungkin jadi penyebab.</li>
<li> Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan.</li>
<li> Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan.</li>
<li> Perlahan-lahan serta pasien dalam kegiatan ruangan dengan melalui tahap-tahap yang ditentukan.</li>
<li> Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai.</li>
<li> Anjurkan pasien mengevaluasi secara mandiri manfaat dari berhubungan.</li>
<li> Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan pasien mengisi waktunya.</li>
<li> Motivasi pasien dalam mengikuti aktivitas ruangan.</li>
<li> Beri pujian atas keikutsertaan dalam kegiatan ruangan.</li>
<li> Lakukan kungjungan rumah, bina hubungan saling percaya dengan keluarga.</li>
<li> Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri,  penyebab dan car a keluarga menghadapi.</li>
<li> Dorong anggota keluarga untuk berkomunikasi.</li>
<li> Anjurkan anggota keluarga pasien secara rutin menengok pasien minimal sekali seminggu.</li>
</ul>
<p>Diagnosa 3.:<br />
Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah<br />
Tujuan : Pasien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.<br />
Kriteria Hasil :</p>
<ol>
<li> Pasien dapat menyebutkan koping yang dapat digunakan</li>
<li> Pasien dapat menyebutkan efektifitas koping yang dipergunakan</li>
<li> Pasien mampu memulai mengevaluasi diri</li>
<li> pasien mampu membuat perencanaan yang realistik sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya</li>
<li> Pasien bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencanan<br />
Intervensi :&nbsp;</p>
<ul>
<li> Dorong pasien untuk menyebutkan aspek positip yang ada pada dirinya dari segi fisik.</li>
<li> Diskusikan dengan pasien tentang harapan-harapannya.</li>
<li> Diskusikan dengan pasien keterampilannya yang menonjol selama di rumah dan di rumah sakit.</li>
<li> Berikan pujian.</li>
<li> Identifikasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pasien</li>
<li> Diskusikan koping yang biasa digunakan oleh pasien.</li>
<li> Diskusikan strategi koping yang efektif bagi pasien.</li>
<li> Bersama pasien identifikasi stressor dan bagaimana penialian pasien terhadap stressor.</li>
<li> Jelaskan bahwa keyakinan pasien terhadap stressor mempengaruhi pikiran dan perilakunya.</li>
<li> Bersama pasien identifikasi keyakinan ilustrasikan tujuan yang tidak realistic.</li>
<li> Bersama pasien identifikasi kekuatan dan sumber koping yang dimiliki</li>
<li> Tunjukkan konsep sukses dan gagal dengan persepsi yang cocok.</li>
<li> Diskusikan koping adaptif dan maladaptif.</li>
<li> Diskusikan kerugian dan akibat respon koping yang maladaptive.</li>
<li> Bantu pasien untuk mengerti bahwa hanya pasien yang dapat merubah dirinya bukan orang lain</li>
<li> Dorong pasien untuk merumuskan perencanaan/tujuannya sendiri (bukan perawat).</li>
<li> Diskusikan konsekuensi dan realitas dari perencanaan / tujuannya.</li>
<li> Bantu pasien untuk menetpkan secara jelas perubahan yang diharapkan.</li>
<li> Dorong pasien untuk memulai pengalaman baru untuk berkembang sesuai potensi yang ada pada dirinya.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<div>DAFTAR PUSTAKA<br />
Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa. Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa, , 2000<br />
Keliat Budi, Anna, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, EGC, 1995<br />
Keliat Budi Anna, dkk, Proses Keperawatan Jiwa, EGC, 1987<br />
Maramis, W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa, Erlangga Universitas Press, 1990<br />
Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, CV.<br />
Sagung Seto, , 2001.<br />
Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku Saku Psikiatri, EGC, 1997<br />
Stuart &amp; Sunden, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, EGC, 1998</div>
</div>
<h3 style="text-align: justify;">Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Halusinasi</h3>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/halusinasi-pendengaran/"  title="halusinasi pendengaran">halusinasi pendengaran</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/gambar-pasien-dengan-isolasi-sosial/"  title="gambar pasien dengan isolasi sosial">gambar pasien dengan isolasi sosial</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/gangguan-isolasi-sosial/"  title="gangguan isolasi sosial">gangguan isolasi sosial</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Halusinasi </h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gangguan-harga-diri/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/depression-150x150.gif" alt="Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Harga Diri" title="Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Harga Diri" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gangguan-harga-diri/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Harga Diri</a></h4><p>Dalam hidup dan kehidupan kita sering dinasehati tentang kepemilikan harga diri. tiap manusia yang ada didunia ini pasti memiliki harga diri dan tentunya masing-masing orang ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-menarik-diri/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/menarik+diri-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Menarik Diri" title="Asuhan Keperawatan Menarik Diri" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-menarik-diri/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Menarik Diri</a></h4><p>Isolasi sosial adalah rasa terisolasi, tersekat, terkunci, terpencil dari masyarakat, rasa ditolak, tidak disukai oleh orang lain, rasa tidak enak bila berkumpul dengan orang lain, ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/proses-keperawatan-keluarga/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/keluarga-150x150.jpg" alt="Proses Keperawatan Keluarga" title="Proses Keperawatan Keluarga" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/proses-keperawatan-keluarga/"  rel="bookmark">Proses Keperawatan Keluarga</a></h4><p>Proses Keperawatan Keluarga merupakan bidang kekhususan spesialisasi yang terdiri dari keterampilan berbagai bidang keparawatan. Praktik keperawatan keluarga didefinisikan sebagai pemberian perawatan yang menggunakan proses keperawatan ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/apa-itu-proses-keperawatan/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/profesional+nurse-242x300.jpg" alt="Apa itu Proses keperawatan?" title="Apa itu Proses keperawatan?" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/apa-itu-proses-keperawatan/"  rel="bookmark">Apa itu Proses keperawatan?</a></h4><p>Proses keperawatan secara umum diartikan sebagai pendekatan dalam pemecahan masalah yang sistematis untuk memberikan asuhan keperawatan terhadap setiap orang. Adapun karakteristik dari proses keperawatan antara ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/epidemiologi-dalam-pelayanan-kebidanan/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/main-150x150.jpg" alt="Epidemiologi Dalam Pelayanan Kebidanan" title="Epidemiologi Dalam Pelayanan Kebidanan" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/epidemiologi-dalam-pelayanan-kebidanan/"  rel="bookmark">Epidemiologi Dalam Pelayanan Kebidanan</a></h4><p>A. Pengertian Epidemiologi merupakan suatu cabang ilmu kesehatan untuk menganalisis sifat dan penyebaran berbagai masalah kesehatan dalam suatu penduduk tertentu serta mempelajari sebab timbulnya masalah ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-halusinasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-meningitis/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-meningitis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 00:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Araknoid]]></category>
		<category><![CDATA[askep klien dengan stroke]]></category>
		<category><![CDATA[askep Meningitis]]></category>
		<category><![CDATA[askep otitis media purulenta]]></category>
		<category><![CDATA[askep pada trauma medula spinalis]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan hidrosefalus]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[Cairan]]></category>
		<category><![CDATA[foto rontgen bronkiektasis]]></category>
		<category><![CDATA[Hemophilus Influenza]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi tetanus neonatorum]]></category>
		<category><![CDATA[Jernih]]></category>
		<category><![CDATA[kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kernig jel]]></category>
		<category><![CDATA[latihan menelan pasien stroke]]></category>
		<category><![CDATA[Medula]]></category>
		<category><![CDATA[medula spinalis yang berhubungan dengan penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[Meninges]]></category>
		<category><![CDATA[Meningitis Purulenta]]></category>
		<category><![CDATA[Meningitis Serosa]]></category>
		<category><![CDATA[Meningokok]]></category>
		<category><![CDATA[Neisseria Meningitis]]></category>
		<category><![CDATA[Otak]]></category>
		<category><![CDATA[Otitis Media]]></category>
		<category><![CDATA[Pasien Dengan Meningitis]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[Radang]]></category>
		<category><![CDATA[Ricketsia]]></category>
		<category><![CDATA[Sinus]]></category>
		<category><![CDATA[Sistem Saraf Pusat]]></category>
		<category><![CDATA[Smeltzer]]></category>
		<category><![CDATA[Spinal Column]]></category>
		<category><![CDATA[Spinalis]]></category>
		<category><![CDATA[Staphylococcus Aureus]]></category>
		<category><![CDATA[Telinga]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Bakteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis &#160; A. Pengertian Meningitis Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001). Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: justify;"><strong> </strong><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma/" title="asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma" >Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis</a></h1>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p><strong>A. Pengertian </strong><strong>Meningitis</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/r7_meningitis.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-148" title="Asuhan-Keperawatan-Pada-Pasien-Dengan-Meningitis" src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/r7_meningitis-150x150.jpg" alt="Asuhan-Keperawatan-Pada-Pasien-Dengan-Meningitis" width="150" height="150" /></a><strong>Meningitis</strong> adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula  spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ  jamur(Smeltzer, 2001).</p>
<p><i>Meningitis</i> merupakan infeksi akut dari  meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme  pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan  bahan aseptis (virus) (Long, 1996).</p>
<p><u>Meningitis</u> adalah peradangan  pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang  menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi &amp; Rita,  2001).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>B. Etiologi Meningitis</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Bakteri  : Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok),  Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss,  Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli,  Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.</li>
<li>Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.</li>
<li>Faktor predisposisi : jenis kelamin lakilaki lebih sering dibandingkan dengan wanita.</li>
<li>Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan.</li>
<li>Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.</li>
<li>Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>C. Klasifikasi </strong><strong>Meningitis</strong></p>
<p>Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Meningitis serosa<br />
Adalah  radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak  yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa.  Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.</li>
<li>Meningitis purulenta<br />
Adalah  radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula  spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok),  Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss,  Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli,  Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>D. Patofisiologi </strong><strong>Meningitis</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Meningitis  bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan  septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian  atas.</p>
<p>Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian  atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis  lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis.  Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah  dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen;  semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.</p>
<p>Organisme  masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam  meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan  penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan  metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat  purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang  juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri  dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari  peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier  oak), edema serebral dan peningkatan TIK.</p>
<p>Pada infeksi akut  pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis.  Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps  sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada  sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan  endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>E. Manifestasi klinis </strong><strong>Meningitis</strong></p>
<p>Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)</li>
<li>Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.</li>
<li>Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb :
<ul>
<li>Rigiditas nukal (kaku leher). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.</li>
<li>Tanda  kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan  fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.</li>
<li>Tanda  brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut  dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada  salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang  berlawanan.</li>
</ul>
</li>
<li>Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.</li>
<li>Kejang  akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat  purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik  tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan  tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.</li>
<li>Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal. Meningitis</li>
<li>Infeksi  fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba  muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati  intravaskuler diseminata.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>F. Pemeriksaan Diagnostik </strong><strong>Meningitis</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Analisis CSS dari fungsi lumbal :
<ul>
<li>Meningitis  bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah  putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap  beberapa jenis bakteri.</li>
<li>Meningitis virus : tekanan bervariasi,  cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan  protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya  dengan prosedur khusus.</li>
</ul>
</li>
<li>Glukosa serum : meningkat (meningitis)</li>
<li>LDH serum : meningkat (meningitis bakteri)</li>
<li>Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (Meningitis infeksi bakteri)</li>
<li>Elektrolit darah : Abnormal.</li>
<li>Kultur  darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat  infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi. Meningitis</li>
<li>MRI/  skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak  ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor. Meningitis</li>
<li>Rontgen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial. Meningitis</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>G. Komplikasi </strong><strong>Meningitis</strong><strong> </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Hidrosefalus obstruktif</li>
<li>MeningococcL Septicemia (mengingocemia)</li>
<li>Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)</li>
<li>SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone)</li>
<li>Efusi subdural</li>
<li>Kejang</li>
<li>Edema dan herniasi serebral</li>
<li>Cerebral palsy</li>
<li>Gangguan mental</li>
<li>Gangguan belajar</li>
<li>Attention deficit disorder.</li>
</ol>
<h2 style="text-align: justify;"><strong>Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis</strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>A. Pengkajian </strong><strong>Meningitis</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Biodata klien Meningitis.</li>
<li>Riwayat kesehatan yang lalu
<ul>
<li>Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?</li>
<li>Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?</li>
<li>Pernahkah operasi daerah kepala ?</li>
</ul>
</li>
<li>Riwayat kesehatan sekarang
<ul>
<li>Aktivitas<br />
Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.</li>
<li>Sirkulasi<br />
Gejala  : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan  darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi,  disritmia.</li>
<li>Eliminasi<br />
Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.</li>
<li>Makanan/cairan<br />
Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.</li>
<li>Higiene<br />
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.</li>
<li>Neurosensori<br />
Gejala  : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena,  kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian  dan halusinasi penciuman. Tanda : letargi sampai kebingungan berat  hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor,  nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif  dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek  abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.</li>
<li>Nyeri/keamanan<br />
Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah, menangis.</li>
<li>Pernafasan<br />
Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan. Meningitis</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>B. Diagnosa Keperawatan </strong><strong>Meningitis</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen.</li>
<li>Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.</li>
<li>Risisko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan umum, vertigo.</li>
<li>Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi.</li>
<li>Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan</li>
<li>Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>C. Intervensi </strong><strong>Meningitis</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen.<br />
Mandiri :&nbsp;</p>
<ul>
<li>Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan</li>
<li>Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat.</li>
<li>Pantau suhu secara teratur</li>
<li>Kaji keluhan nyeri dada, nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus</li>
<li>Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nafas dalam</li>
<li>Cacat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau)</li>
</ul>
<p>Kolaborasi :</p>
<ul>
<li>Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin.</li>
</ul>
</li>
<li>Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.<br />
Mandiri :&nbsp;</p>
<ul>
<li>Tirah baring dengan posisi kepala datar.</li>
<li>Pantau status neurologis.</li>
<li>Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang.</li>
<li>Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, penafasan, suhu, masukan dan haluaran.</li>
<li>Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah mengejan.</li>
</ul>
<p>Kolaborasi :</p>
<ul>
<li>Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat.</li>
<li>Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit).</li>
<li>Pantau BGA.</li>
<li>erikan obat : steoid, clorpomasin, asetaminofen.</li>
</ul>
</li>
<li>Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal, kelemahan umum vertigo.<br />
Mandiri :&nbsp;</p>
<ul>
<li>Pantau adanya kejang</li>
<li>Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan.</li>
<li>Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diaepam, venobarbital.</li>
</ul>
</li>
<li>Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi.<br />
Mandiri :&nbsp;</p>
<ul>
<li>Letakkan  kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi  yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau  pasif dan masage otot leher.</li>
<li>Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi)</li>
<li>Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif.</li>
<li>Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul.</li>
</ul>
<p>Kolaborasi :</p>
<ul>
<li>Berikan anal getik, asetaminofen, codein</li>
</ul>
</li>
<li>Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
<ul>
<li>Kaji derajat imobilisasi pasien.</li>
<li>Bantu latihan rentang gerak.</li>
<li>Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab.</li>
<li>Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan, berikan matras udsra atau air perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional.</li>
<li>Berikan program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi.</li>
</ul>
</li>
<li>Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis
<ul>
<li>Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan, sensorik dan proses pikir.</li>
<li>Kaji kesadara sensorik : sentuhan, panas, dingin.</li>
<li>Observasi respons perilaku.</li>
<li>Hilangkan suara bising yang berlebihan.</li>
<li>Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik.</li>
<li>Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas.</li>
<li>Kolaborasi ahli fisioterapi, terapi okupasi,wicara dan kognitif.</li>
</ul>
</li>
<li>Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.
<ul>
<li>Kaji status mental dan tingkat ansietasnya.</li>
<li>Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.</li>
<li>Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.</li>
<li>Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>H. Evaluasi </strong><strong>Meningitis</strong></p>
<p>Hasil yang diharapkan :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.</li>
<li>Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik, mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.</li>
<li>Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain.</li>
<li>Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.</li>
<li>Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan.</li>
<li>Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.</li>
<li>Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA </strong></p>
<h3>Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis</h3>
<p>Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih  Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa  Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC.</p>
<p>Harsono.(1996).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.</p>
<p>Smeltzer,  Suzanne C &amp; Bare,Brenda G.(2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal  Bedah Brunner &amp; Suddarth.Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk.Editor edisi  bahasa Indonesia, Monica Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.</p>
<p>Tucker, Susan  Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And  Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998.</p>
<p>Price,  Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease  Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994.</p>
<p>Long,  Barbara C. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses  Keperawatan. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan;  1996.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis</h3>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/medula-spinalis-yang-berhubungan-dengan-penyakit-tetanus/"  title="medula spinalis YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT TETANUS">medula spinalis YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT TETANUS</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/asuhan-keperawatan-hidrosefalus/"  title="asuhan keperawatan hidrosefalus">asuhan keperawatan hidrosefalus</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/askep-otitis-media-purulenta/"  title="askep otitis media purulenta">askep otitis media purulenta</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/gambar-alat-keperawatan/"  title="Gambar alat keperawatan">Gambar alat keperawatan</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/peregangan-periosteum-oleh-tumor/"  title="peregangan periosteum oleh tumor">peregangan periosteum oleh tumor</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-stroke/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/strok-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke" title="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-stroke/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke</a></h4><p>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke Pengertian Secara umum gangguan pembuluh darah otak atau stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral. Merupakan suatu gangguan neurologik fokal yang ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/otitis-media-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)" title="Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA) Pengertian Otitis media akut Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-tetanus-neonatorum/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/imun1-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum" title="Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-tetanus-neonatorum/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum</a></h4><p>Tetanus Neonatorum A. PENGERTIAN Tetanus berasal dari kata tetanos (Yunani) yang berarti peregangan. Tetanus Neonatorum : Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/sinusitis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis" title="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis</a></h4><p>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis A. Pengertian Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. B. Etiologi Rinogen Obstruksi dari ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bronkiektasis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" title="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru) A. Pengertian Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-meningitis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 00:26:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[akut otitis media]]></category>
		<category><![CDATA[askep Otitis Media Akut]]></category>
		<category><![CDATA[Bakteri]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[Bunyi]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cairan]]></category>
		<category><![CDATA[cara pengobatan oma]]></category>
		<category><![CDATA[escherecia coli]]></category>
		<category><![CDATA[gambar otitis media akut]]></category>
		<category><![CDATA[gambar penderita otitis media]]></category>
		<category><![CDATA[gambar penyakit otitis media]]></category>
		<category><![CDATA[gambar telinga]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan pada telinga]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi telinga]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi telinga akut]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi telinga tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kapita Selekta]]></category>
		<category><![CDATA[Kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[kuping mendengung]]></category>
		<category><![CDATA[Membran]]></category>
		<category><![CDATA[Nyeri]]></category>
		<category><![CDATA[otitis eksterna akut]]></category>
		<category><![CDATA[Otitis Media]]></category>
		<category><![CDATA[Otitis Media Akut]]></category>
		<category><![CDATA[otitis media akut adalah]]></category>
		<category><![CDATA[otitis media bagan patofisiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Pasien Otitis Media Akut]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi otitis eksterna]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi otitis media]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi otitis media akut]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi stroke]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi tb paru]]></category>
		<category><![CDATA[patogenesis otitis media akut]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan diagnostik otitis media akut]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan otitis media akut]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan otitis media akut]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian otitis media akut]]></category>
		<category><![CDATA[Penit]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit otitis media]]></category>
		<category><![CDATA[peradangan telinga]]></category>
		<category><![CDATA[Perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[Periosteum]]></category>
		<category><![CDATA[Pneumatik]]></category>
		<category><![CDATA[radang liang telinga]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit Telinga]]></category>
		<category><![CDATA[Staphylococcus Aureus]]></category>
		<category><![CDATA[Strept]]></category>
		<category><![CDATA[Streptococcus Anhaemolyticus]]></category>
		<category><![CDATA[Streptococcus Haemolyticus]]></category>
		<category><![CDATA[Telinga]]></category>
		<category><![CDATA[telinga tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Timpani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA) Pengertian Otitis media akut Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 1999). Yang paling sering terlihat Otitis media akut ialah : Otitis media viral akut Otitis media bakterial akut Otitis media nekrotik akut Etiologi Otitis media akut Penyebab Otitis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma/" title="asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma" >Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)</a></h1>
<p style="text-align: justify;">Pengertian <i>Otitis media akut</i></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/otitis-media.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-141" title="Asuhan-Keperawatan-Pasien-Otitis-Media-Akut" src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/otitis-media-150x150.jpg" alt="Asuhan-Keperawatan-Pasien-Otitis-Media-Akut" width="150" height="150" /></a><strong>Otitis media akut (OMA)</strong> adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 1999).</p>
<p style="text-align: justify;">Yang paling sering terlihat <u>Otitis media akut</u> ialah :</p>
<p style="text-align: justify;">Otitis media viral akut<br />
Otitis media bakterial akut<br />
Otitis media nekrotik akut</p>
<p style="text-align: justify;">Etiologi Otitis media akut</p>
<p style="text-align: justify;">Penyebab Otitis media akut adalah bakteri piogenik seperti streptococcus haemolyticus, staphylococcus aureus, pneumococcus , haemophylus influenza, escherecia coli, streptococcus anhaemolyticus, proteus vulgaris, pseudomonas aerugenosa.</p>
<p style="text-align: justify;">Patofisiologi Otitis media akut</p>
<p style="text-align: justify;">Umumnya Otitis media akut dari nasofaring yang kemudian mengenai telinga tengah, kecuali pada kasus yang relatif jarang, yang mendapatkan infeksi bakteri yang membocorkan membran timpani. Stadium awal komplikasi ini dimulai dengan hiperemi dan edema pada mukosa tuba eusthacius bagian faring, yang kemudian lumennya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa.</p>
<p style="text-align: justify;">Gangguan ventilasi telinga tengah ini disertai oleh terkumpulnya cairan eksudat dan transudat dalam telinga tengah, akibatnya telinga tengah menjadi sangat rentan terhadap infeksi bakteri yang datang langsung dari nasofaring. Selanjutnya faktor ketahanan tubuh pejamu dan virulensi bakteri akan menentukan progresivitas penyakit. Otitis media akut</p>
<p style="text-align: justify;">Pemeriksaan Penunjang Otitis media akut</p>
<p style="text-align: justify;">Otoskop pneumatik untuk melihat membran timpani yang penuh, bengkak dan tidak tembus cahaya dengan kerusakan mogilitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Kultur cairan melalui mambran timpani yang pecah untuk mengetahui organisme penyebab.  Otitis media akut</p>
<h2 style="text-align: justify;">Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)</h2>
<p style="text-align: justify;">Pengkajian</p>
<p style="text-align: justify;">Data yang muncul saat pengkajian Otitis media akut :</p>
<p style="text-align: justify;">Sakit telinga/nyeri<br />
Penurunan/tak ada ketajaman pendengaran pada satu atau kedua telinga<br />
Tinitus<br />
Perasaan penuh pada telinga<br />
Suara bergema dari suara sendiri<br />
Bunyi “letupan” sewaktu menguap atau menelan<br />
Vertigo, pusing, gatal pada telinga<br />
Penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga<br />
Penggunanaan obat (streptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin)<br />
Tanda-tanda vital (suhu bisa sampai 40o C), demam<br />
Kemampuan membaca bibir atau memakai bahasa isyarat<br />
Reflek kejut<br />
Toleransi terhadap bunyi-bunyian keras<br />
Tipe warna 2 jumlah cairan<br />
Cairan telinga; hitam, kemerahan, jernih, kuning<br />
Alergi<br />
Dengan otoskop tuba eustacius bengkak, merah, suram<br />
Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan atas, infeksi telinga sebelumnya, alergi</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosa Keperawatan Otitis media akut yang Muncul</p>
<p style="text-align: justify;">Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga Otitis media akut</p>
<p style="text-align: justify;">Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan Otitis media akut</p>
<p style="text-align: justify;">Resiko tinggi injury berhubungan dengan penurunan persepsi sensori</p>
<p style="text-align: justify;">Intervensi Otitis media akut</p>
<p style="text-align: justify;">Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan :<br />
Nyeri berkurang atau hilang</p>
<p style="text-align: justify;">Intervensi :<br />
Beri posisi nyaman ; dengan posisi nyaman dapat mengurangi nyeri.<br />
Kompres panas di telinga bagian luar ; untuk mengurangi nyeri.<br />
Kompres dingin ; untuk mengurangi tekanan telinga (edema)<br />
Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotik</p>
<p style="text-align: justify;">Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan :<br />
Tidak terjadi tanda-tanda infeksi</p>
<p style="text-align: justify;">Intervensi :<br />
Kaji tanda-tanda perluasan infeksi, mastoiditis, vertigo ; untuk mengantisipasi perluasan lebih lanjut.<br />
Jaga kebersihan pada daerah liang telinga ; untuk mengurangi pertumbuhan mikroorganisme.<br />
Hindari mengeluarkan ingus dengan paksa/terlalu keras (sisi) ; untuk menghindari transfer organisme dari tuba eustacius ke telinga tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kolaborasi pemberian antibiotik Otitis media akut</p>
<p style="text-align: justify;">Resiko tinggi injury berhubungan dengan penurunan persepsi sensori</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan :<br />
Tidak terjadi injury atau perlukaan</p>
<p style="text-align: justify;">Intervensi :<br />
Pegangi anak atau dudukkan anak di pangkuan saat makan ; meminimalkan anak agar tidak jatuh<br />
Pasang restraint pada sisi tempat tidur ; meminimalkan agar anak tidak jatuh.<br />
Jaga anak saat beraktivitas ; meminimalkan agar anak tidak jatuh.<br />
Tempatkan perabot teratur ; meminimalkan agar anak tidak terluka.</p>
<p style="text-align: justify;">Daftar Pustaka</p>
<p style="text-align: justify;">1. Donna L. Wong, L.F. Whaley, Nursing Care of Infants and Children, Mosby Year Book.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Efiaty Arsyad, S, Nurbaiti Iskandar, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan, Edisi III, FKUI,1997.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Wong Whaley, Clinical Manual of Pediatric Nursing, Mosby Year Book.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)</h3>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/otitis-media-akut/"  title="Otitis media akut">Otitis media akut</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/otitis-media/"  title="Otitis media">Otitis media</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/infeksi-telinga/"  title="infeksi telinga">infeksi telinga</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/patofisiologi-otitis-media-akut/"  title="patofisiologi otitis media akut">patofisiologi otitis media akut</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/patogenesis-otitis-media-akut/"  title="patogenesis otitis media akut">patogenesis otitis media akut</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/bagaimana-penanganan-otitis-externa/"  rel="bookmark"><img src="http://www.asuhankeperawatan.net/wp-content/uploads/2011/08/Otitis-Externa-300x222.jpg" alt="Bagaimana Penanganan Otitis externa?" title="Bagaimana Penanganan Otitis externa?" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/bagaimana-penanganan-otitis-externa/"  rel="bookmark">Bagaimana Penanganan Otitis externa?</a></h4><p>Otitis externa merupakan proses peradangan dan infeksi pada EAC (External Auditori Canal). Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus merupakan organisme yang paling sering ditemukan pada infeksi ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-meningitis/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/r7_meningitis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis" title="Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-meningitis/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis &nbsp; A. Pengertian Meningitis Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-penyakit-tinitus/"  rel="bookmark"><img src="http://www.asuhankeperawatan.net/wp-content/uploads/2011/08/Penyakit-Tinitus.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Penyakit Tinitus" title="Asuhan Keperawatan Penyakit Tinitus" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-penyakit-tinitus/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Penyakit Tinitus</a></h4><p>Tinitus adalah suatu gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan mendengarkan bunyi tanpa ada rangsang bunyi dari luar. Keluhan ini dapat berupa bunyi mendengung, menderu, mendesis, atau ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/sinusitis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis" title="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis</a></h4><p>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis A. Pengertian Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. B. Etiologi Rinogen Obstruksi dari ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/daftar-asuhan-keperawatan-anak/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bayi-lucu-150x150.jpg" alt="Daftar Asuhan Keperawatan Anak" title="Daftar Asuhan Keperawatan Anak" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/daftar-asuhan-keperawatan-anak/"  rel="bookmark">Daftar Asuhan Keperawatan Anak</a></h4><p>1. Asuhan Keperawatan Anak Acute Limphosityc Leucemia 2. Asuhan Keperawatan Anak Acute Nonlymphoid (Myelogenosis) Leukemia 3. Asuhan Keperawatan Anak Akut Respiratori Distress Sindrom (ARDS) 4. ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 00:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[askep benigna prostat hiperplasia]]></category>
		<category><![CDATA[askep hiperplasia prostat]]></category>
		<category><![CDATA[askep Sinusitis]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan bph]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[Bindeng]]></category>
		<category><![CDATA[Biodata]]></category>
		<category><![CDATA[Cadwell]]></category>
		<category><![CDATA[Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Drainage]]></category>
		<category><![CDATA[Gigi]]></category>
		<category><![CDATA[Influenza]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuman]]></category>
		<category><![CDATA[Luc]]></category>
		<category><![CDATA[Meatus]]></category>
		<category><![CDATA[Medius]]></category>
		<category><![CDATA[Pasien dengan Sinusitis]]></category>
		<category><![CDATA[pathway sinusitis maksilaris]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi sebelum operasi benigna prostat hiperplasia]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[Septum]]></category>
		<category><![CDATA[Sinus]]></category>
		<category><![CDATA[Sinusitis]]></category>
		<category><![CDATA[Staphylococcus Aureus]]></category>
		<category><![CDATA[Streptococcus Pneumoniae]]></category>
		<category><![CDATA[Tanda]]></category>
		<category><![CDATA[tb paru]]></category>
		<category><![CDATA[Tekan]]></category>
		<category><![CDATA[Telinga]]></category>
		<category><![CDATA[X Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis A. Pengertian Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. B. Etiologi Rinogen Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh : Rinitis Akut (influenza) Polip, septum deviasi Dentogen Penjalaran infeksi dari gigi geraham atas Penyebabnya adalah kuman : Streptococcus pneumoniae Hamophilus influenza Steptococcus viridans [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis</h1>
<p><a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/sinusitis.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-136" title="Asuhan-Keperawatan-pada-Pasien-dengan-Sinusitis" src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/sinusitis-150x150.jpg" alt="Asuhan-Keperawatan-pada-Pasien-dengan-Sinusitis" width="150" height="150" /></a>A. Pengertian<br />
<strong>Sinusitis</strong> adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus.</p>
<p>B. Etiologi</p>
<p>Rinogen<br />
Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :<br />
Rinitis Akut (influenza)<br />
Polip, septum deviasi<br />
Dentogen<br />
Penjalaran infeksi dari gigi geraham atas<br />
Penyebabnya adalah kuman :<br />
Streptococcus pneumoniae<br />
Hamophilus influenza<br />
Steptococcus viridans<br />
Staphylococcus aureus<br />
Branchamella catarhatis</p>
<p>C. Tanda dan Gejala</p>
<p>Febris, pilek kental, berbau, bisa bercampur darah<br />
Nyeri pada :<br />
Pipi : biasanya unilateral<br />
Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari<br />
Gigi (geraham atas) homolateral.<br />
Hidung :<br />
buntu homolateral<br />
Suara bindeng</p>
<p>D. Pemeriksaan Penunjang</p>
<p>Rinoskopi anterior :<br />
Mukosa merah<br />
Mukosa bengkak<br />
Mukopus di meatus medius<br />
Rinoskopi postorior<br />
Mukopus nasofaring<br />
Nyeri tekan pipi yang sakit<br />
Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit<br />
X Foto sinus paranasalis<br />
Kesuraman<br />
Gambaran “airfluidlevel”<br />
Penebalan mukosa</p>
<p>E. Penatalaksanaan</p>
<p>Drainage<br />
Medical :<br />
Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak)<br />
Dekongestan oral <img src='http://www.bidandesa.tk/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> sedo efedrin 3 X 60 mg<br />
Surgikal : irigasi sinus maksilaris.<br />
Antibiotik diberikan dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu :<br />
Ampisilin 4 x 500 mg<br />
Amoksilin 3 x 500 mg<br />
Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet<br />
Diksisiklin 100 mg/hari<br />
Simtomatik<br />
Prasetamol, metampiron 3 x 500 mg.<br />
Untuk kronis adalah :<br />
Cabut geraham atas bila penyebab dentogen<br />
Irigasi 1 x setiap minggu (10-20)<br />
Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)</p>
<h2>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis</h2>
<p>A. Pengkajian</p>
<p>Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,<br />
Riwayat Penyakit sekarang : penderita mengeluah hidung tersumbat,kepala pusing, badan terasa panas, bicara bendeng.<br />
Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan.<br />
Riwayat penyakit dahulu :<br />
Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma<br />
Pernah mempunyai riwayat penyakit THT<br />
Pernah menedrita sakit gigi geraham<br />
Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.<br />
Riwayat spikososial<br />
Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih)<br />
Interpersonal : hubungan dengan orang lain.<br />
Pola fungsi kesehatan<br />
Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat<br />
Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping.<br />
Pola nutrisi dan metabolisme<br />
Biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung<br />
Pola istirahat dan tidur<br />
Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek<br />
Pola Persepsi dan konsep diri<br />
Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun<br />
Pola sensorik<br />
Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).<br />
Pemeriksaan fisik<br />
status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.<br />
Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa merah dan bengkak).</p>
<p>B. Diagnosa Keperawatan <em>Sinusitis</em></p>
<p>Nyeri : kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung<br />
Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis(irigasi sinus/operasi)<br />
Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang mengental<br />
Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu., nyeri sekunder peradangan hidung<br />
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus<br />
Gangguan konsep diri berhubungan dengan bau pernafasan dan pilek</p>
<p>C. Intervensi <span style="text-decoration: underline;">Sinusitis</span></p>
<p>Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung<br />
Tujuan : Nyeri klien berkurang atau hilang<br />
Kriteria hasil :<br />
Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang<br />
Klien tidak menyeringai kesakitan.</p>
<p>Intervensi :<br />
Kaji tingkat nyeri klien<br />
R/: Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya<br />
Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya<br />
R/: Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri<br />
Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi<br />
R/: Klien mengetahui tehnik distraksi dn relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri<br />
Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien<br />
R/: Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.<br />
Kolaborasi dengan tim medis :<br />
Terapi konservatif :<br />
Obat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung<br />
Drainase sinus<br />
Pembedahan :<br />
Irigasi Antral : Untuk sinusitis maksilaris<br />
Operasi Cadwell Luc<br />
R/: Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien</p>
<p>Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (irigasi/operasi)<br />
Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang<br />
Kriteria hasil:<br />
Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya<br />
Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.</p>
<p>Intervensi :<br />
Kaji tingkat kecemasan klien<br />
R/: Menentukan tindakan selanjutnya<br />
Berikan kenyamanan dan ketentaman pada klien :<br />
Temani klien<br />
Perlihatkan rasa empati(datang dengan menyentuh klien)<br />
R/: Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan<br />
Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti<br />
R/: Meingkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif<br />
Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :<br />
Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang<br />
Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan<br />
R/: Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien.<br />
Observasi tanda-tanda vital<br />
R/: Mengetahui perkembangan klien secara dini.<br />
Bila perlu, kolaborasi dengan tim medis<br />
R/: Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien</p>
<p>Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi (penumpukan secret hidung) sekunder dari peradangan sinus<br />
Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret (seous, purulen) dikeluarkan<br />
Kriteria hasil :<br />
Klien tidak bernafas lagi melalui mulut<br />
Jalan nafas kembali normal terutama hidung</p>
<p>Intervensi :<br />
Kaji penumpukan secret yang ada<br />
R/: Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya<br />
Observasi tanda-tanda vital<br />
R/: Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi<br />
Koaborasi dengan tim medis untuk pembersihan sekret<br />
R/: Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000<br />
Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan FK Unair, Pedoman diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair, Surabaya<br />
Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta</p>
<h3>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis</h3>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/tb-paru/"  title="TB paru">TB paru</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/patofisiologi-sebelum-operasi-benigna-prostat-hiperplasia/"  title="patofisiologi sebelum operasi benigna prostat hiperplasia">patofisiologi sebelum operasi benigna prostat hiperplasia</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bronkiektasis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" title="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru) A. Pengertian Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-pasie-benigna-prostat-hipertropi-bph/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/11/prostate-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Pasie Benigna Prostat Hipertropi (BPH | Hipertropi Prostat" title="Asuhan Keperawatan pada Pasie Benigna Prostat Hipertropi (BPH | Hipertropi Prostat" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-pasie-benigna-prostat-hipertropi-bph/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Pasie Benigna Prostat Hipertropi (BPH | Hipertropi Prostat</a></h4><p>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH) A. Pengertian Hipertropi Prostat Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/apa-itu-proses-keperawatan/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/profesional+nurse-242x300.jpg" alt="Apa itu Proses keperawatan?" title="Apa itu Proses keperawatan?" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/apa-itu-proses-keperawatan/"  rel="bookmark">Apa itu Proses keperawatan?</a></h4><p>Proses keperawatan secara umum diartikan sebagai pendekatan dalam pemecahan masalah yang sistematis untuk memberikan asuhan keperawatan terhadap setiap orang. Adapun karakteristik dari proses keperawatan antara ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/otitis-media-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)" title="Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pasien-otitis-media-akut-oma/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA)</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Pasien Otitis Media Akut (OMA) Pengertian Otitis media akut Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gangguan-harga-diri/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/depression-150x150.gif" alt="Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Harga Diri" title="Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Harga Diri" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gangguan-harga-diri/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Harga Diri</a></h4><p>Dalam hidup dan kehidupan kita sering dinasehati tentang kepemilikan harga diri. tiap manusia yang ada didunia ini pasti memiliki harga diri dan tentunya masing-masing orang ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-stroke/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-stroke/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 00:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Akan]]></category>
		<category><![CDATA[Akut]]></category>
		<category><![CDATA[Antara]]></category>
		<category><![CDATA[askep pada kasus penyakit stroke]]></category>
		<category><![CDATA[askep pada pasien hipertensi pengkajian, nic noc]]></category>
		<category><![CDATA[askep stroke]]></category>
		<category><![CDATA[aterosklerosis]]></category>
		<category><![CDATA[Berat]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[Dapat]]></category>
		<category><![CDATA[Dimana]]></category>
		<category><![CDATA[Embolus]]></category>
		<category><![CDATA[Fokal]]></category>
		<category><![CDATA[gambar penderita hemiparese]]></category>
		<category><![CDATA[Hipoksia]]></category>
		<category><![CDATA[Iskemia]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[klasifikasi, patogenesis dan patologi tb paru]]></category>
		<category><![CDATA[Lain]]></category>
		<category><![CDATA[Masih]]></category>
		<category><![CDATA[Pasien dengan Strok]]></category>
		<category><![CDATA[Pembuluh Darah]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[Proses Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sinus]]></category>
		<category><![CDATA[Strok]]></category>
		<category><![CDATA[Stroke]]></category>
		<category><![CDATA[Terus]]></category>
		<category><![CDATA[Thrombosis]]></category>
		<category><![CDATA[Tiga]]></category>
		<category><![CDATA[Trauma]]></category>
		<category><![CDATA[Tumor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke Pengertian Secara umum gangguan pembuluh darah otak atau stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral. Merupakan suatu gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologis pada pembuluh darah serebral, misalnya trombosis, embolus, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vascular dasar, misalnya aterosklerosis, arteritis, trauma, aneurisme dan kelainan perkembangan. Stroke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-stroke/" title="asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-stroke" >Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke</a></h2>
<p style="text-align: justify;">Pengertian</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/strok.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-131" title="askep strok" src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/strok-150x150.jpg" alt="askep strok" width="150" height="150" /></a>Secara umum gangguan pembuluh darah otak atau <b>stroke</b> merupakan gangguan sirkulasi serebral. Merupakan suatu gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologis pada pembuluh darah serebral, misalnya trombosis, embolus, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vascular dasar, misalnya aterosklerosis, arteritis, trauma, aneurisme dan kelainan perkembangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><i>Stroke</i> dapat juga diartikan sebagai gangguan fungsional otak yang bersifat :</p>
<p style="text-align: justify;">fokal dan atau global<br />
akut<br />
berlangsung antara 24 jam atau lebih<br />
disebabkan gangguan aliran darah otak<br />
tidak disebabkan karena tumor/infeksi</p>
<p style="text-align: justify;">Klasifikasi</p>
<p style="text-align: justify;"><u>Stroke</u> dapat digolongkan sesuai dengan etiologi atau dasar perjalanan penyakit. Sesuai dengan perjalanan penyakit ,stroke dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :</p>
<p style="text-align: justify;">Serangan iskemik sepintas/ TIA ( Trans Iskemik Attack) gangguan neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.<br />
Progresif/ inevolution (stroke yang sedang berkembang) stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari.<br />
Stroke lengkap/completed : gangguan neurologis maksimal sejak awal serangan dengan sedikit perbaikan. Stroke dimana deficit neurologisnya pada saat onset lebih berat, bisa kemudian membaik/menetap.</p>
<p style="text-align: justify;">Klasifikasi berdasarkan patologi :</p>
<p style="text-align: justify;">Stroke Haemorhagic<br />
Stroke yang terjadi karena pembuluh darah di otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri venosa. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun.</p>
<p style="text-align: justify;">Stroke non Haemorhagic<br />
Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder . Kesadaran umummnya baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Etiologi</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan stroke antara lain :</p>
<p style="text-align: justify;">Thrombosis Cerebral<br />
Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapa menimbulkan oedema dan kongesti di sekitarnya.Thrombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemi serebral.Tanda dan gejala neurologis seringkali memburuk pada 48 jam setelah thrombosis.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan thrombosis otak :<br />
Atherosklerosis<br />
Atherosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi klinis atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme berikut :<br />
Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran darah.<br />
Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi thrombosis.<br />
Merupakan tempat terbentuknya thrombus, kemudian melepaskan kepingan thrombus (embolus)<br />
Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan.<br />
Hypercoagulasi pada polysitemia<br />
Darah bertambah kental, peningkatan viskositas /hematokrit meningkat dapat melambatkan aliran darah serebral.<br />
Arteritis (radang pada arteri)</p>
<p style="text-align: justify;">Emboli<br />
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut berlangsung cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa keadaan dibawah ini dapat menimbulkan emboli :<br />
Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease.(RHD)<br />
Myokard infark<br />
Fibrilasi. Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk pengosongan ventrikel sehingga darah terbentuk gumpalan kecil dan sewaktu-waktu kosong sama sekali dengan mengeluarkan embolus-embolus kecil.<br />
Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan terbentuknya gumpalan-gumpalan pada endocardium.</p>
<p style="text-align: justify;">Haemorhagic<br />
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam ruang subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan, pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan ,sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga terjadi infark otak, oedema, dan mungkin herniasi otak.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi :<br />
Aneurisma Berry,biasanya defek kongenital.<br />
Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis.<br />
Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.<br />
Malformasi arteriovenous, terjadi hubungan persambungan pembuluh darah arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena.<br />
Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan dan degenerasi pembuluh darah.</p>
<p style="text-align: justify;">Hypoksia Umum<br />
Hipertensi yang parah<br />
Cardiac Pulmonary Arrest<br />
Cardiac output turun akibat aritmia</p>
<p style="text-align: justify;">Hipoksia setempat<br />
Spasme arteri serebral , yang disertai perdarahan subarachnoid.<br />
Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migrain.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda dan Gejala</p>
<p style="text-align: justify;">Stroke menyebabkan defisit nuurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat dan jumlah aliran darah kolateral. Stroke akan meninggalkan gejala sisa karena fungsi otak tidak akan membaik sepenuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparese atau hemiplegia)<br />
Lumpuh pada salah satu sisi wajah “Bell’s Palsy”<br />
Tonus otot lemah atau kaku<br />
Menurun atau hilangnya rasa<br />
Gangguan lapang pandang “Homonimus Hemianopsia”<br />
Gangguan bahasa (Disatria: kesulitan dalam membentuk kata; afhasia atau disfasia: bicara defeksif/kehilangan bicara)<br />
Gangguan persepsi<br />
Gangguan status mental</p>
<p style="text-align: justify;">Patofisiologi</p>
<p style="text-align: justify;">Trombosis (penyakit trombo &#8211; oklusif) merupakan penyebab stroke yang paling sering. Arteriosclerosis selebral dan perlambatan sirkulasi selebral adalah penyebab utama trombosis selebral, yang adalah penyebab umum dari stroke. Tanda-tanda trombosis selebral bervariasi. Sakit kepala adalah awitan yang tidak umum. Beberapa pasien mengalami pusing, perubahan kognitif atau kejang dan beberapa awitan umum lainnya. Secara umum trombosis selebral tidak terjadi secara tiba-tiba, dan kehilangan bicara sementara, hemiplegia atau parestesia pada setengah tubuh dapat mendahului awitan paralysis berat pada beberapa jam atau hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Trombosis terjadi biasanya ada kaitannya dengan kerusakan local dinding pembuluh darah akibat atrosklerosis. Proses aterosklerosis ditandai oleh plak berlemak pada pada lapisan intima arteria besar. Bagian intima arteria sereberi menjadi tipis dan berserabut, sedangkan sel – sel ototnya menghilang. Lamina elastika interna robek dan berjumbai, sehingga lumen pembuluh sebagian terisi oleh materi sklerotik tersebut. Plak cenderung terbentuk pada percabangan atau tempat – tempat yang melengkung. Trombi juga dikaitkan dengan tempat – tempat khusus tersebut. Pembuluh – pembuluh darah yang mempunyai resiko dalam urutan yang makin jarang adalah sebagai berikut : arteria karotis interna, vertebralis bagian atas dan basilaris bawah. Hilangnya intima akan membuat jaringan ikat terpapar. Trombosit menempel pada permukaan yang terbuka sehingga permukaan dinding pembuluh darah menjadi kasar. Trombosit akan melepasakan enzim, adenosin difosfat yang mengawali mekanisme koagulasi. Sumbat fibrinotrombosit dapat terlepas dan membentuk emboli, atau dapat tetap tinggal di tempat dan akhirnya seluruh arteria itu akan tersumbat dengan sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Embolisme : embolisme sereberi termasuk urutan kedua dari berbagai penyebab utama stroke. Penderita embolisme biasanya lebih muda dibanding dengan penderita trombosis. Kebanyakan emboli sereberi berasal dari suatu trombus dalam jantung, sehingga masalah yang dihadapi sebenarnya adalah perwujudan dari penyakit jantung. Meskipun lebih jarang terjadi, embolus juga mungkin berasal dari plak ateromatosa sinus karotikus atau arteria karotis interna. Setiap bagian otak dapat mengalami embolisme, tetapi embolus biasanya embolus akan menyumbat bagian – bagian yang sempit.. tempat yang paling sering terserang embolus sereberi adalah arteria sereberi media, terutama bagian atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Perdarahan serebri : perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus GPDO (Gangguan Pembuluh Darah Otak) dan merupakan sepersepuluh dari semua kasus penyakit ini. Perdarahan intrakranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteri serebri. Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan /atau subaraknoid, sehingga jaringan yang terletakdi dekatnya akan tergeser dan tertekan. Darah ini sangat mengiritasi jaringan otak, sehingga mengakibatkan vasospasme pada arteria di sekitar perdarahan. Spasme ini dapat menyebar ke seluruh hemisper otak dan sirkulus wilisi. Bekuan darah yang semula lunak menyerupai selai merah akhirnya akan larut dan mengecil. Dipandang dari sudut histologis otak yang terletak di sekitar tempat bekuan dapat membengkak dan mengalami nekrosis. Karena kerja enzim – enzim akan terjadi proses pencairan, sehingga terbentuk suatu rongga. Sesudah beberapa bulan semua jaringan nekrotik akan terganti oleh astrosit dan kapiler – kapiler baru sehingga terbentuk jalinan di sekitar rongga tadi. Akhirnya rongga terisi oleh serabut – serabut astroglia yang mengalami proliferasi. Perdarahan subaraknoid sering dikaitkan dengan pecahnya suatu aneurisme. Kebanyakan aneurisme mengenai sirkulus wilisi. Hipertensi atau gangguan perdarahan mempermudah kemungkinan ruptur. Sering terdapat lebih dari satu aneurisme.</p>
<h1 style="text-align: justify;">Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke</h1>
<p style="text-align: justify;">Pengkajian</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan pada tingkat kesadaran atau responivitas yang dibuktikan dengan gerakan, menolak terhadap perubahan posisi dan respon terhadap stimulasi, berorientasi terhadap waktu, tempat dan orang<br />
Ada atau tidaknya gerakan volunteer atau involunter ekstremitas, tonus otot, postur tubuh, dan posisi kepala.<br />
Kekakuan atau flaksiditas leher.<br />
Pembukaan mata, ukuran pupil komparatif, dan reaksi pupil terhadap cahaya dan posisi okular.<br />
Warna wajah dan ekstremitas, suhu dan kelembaban kulit.<br />
Kualitas dan frekuensi nadi, pernapasan, gas darah arteri sesuai indikasi, suhu tubuh dan tekanan arteri.<br />
Kemampuan untuk bicara<br />
Volume cairan yang diminum dan volume urin yang dikeluarkan setiap 24 jam.<br />
Riwayat hipertensi, kebiasaan merokok, kebiasaan makanan dan umur.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pengkajian secara umum tersebut diatas dapat dijabarkan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;">Pengkajian Primer<br />
Airway<br />
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk.<br />
Breathing<br />
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi.<br />
Circulation<br />
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengkajian Sekunder<br />
Aktivitas dan istirahat<br />
Data Subyektif :<br />
kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis.<br />
Mudah lelah, kesulitan istirahat (nyeri atau kejang otot).<br />
Data obyektif :<br />
Perubahan tingkat kesadaran.<br />
Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis (hemiplegia), kelemahan umum.<br />
Gangguan penglihatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sirkulasi<br />
Data Subyektif :<br />
Riwayat penyakit jantung (penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung, endokarditis bacterial), polisitemia.<br />
Data obyektif :<br />
Hipertensi arterial<br />
Disritmia, perubahan EKG<br />
Pulsasi : kemungkinan bervariasi<br />
Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal.</p>
<p style="text-align: justify;">Integritas ego<br />
Data Subyektif :<br />
Perasaan tidak berdaya, hilang harapan.<br />
Data obyektif :<br />
Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan.<br />
Kesulitan berekspresi diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Eliminasi<br />
Data Subyektif :<br />
Inkontinensia, anuria<br />
Distensi abdomen (kandung kemih sangat penuh), tidak adanya suara usus(ileus paralitik)</p>
<p style="text-align: justify;">Makan/ minum<br />
Data Subyektif :<br />
Nafsu makan hilang.<br />
Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK.<br />
Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia.<br />
Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah.<br />
Data obyektif :<br />
Problem dalam mengunyah (menurunnya reflek palatum dan faring)<br />
Obesitas (faktor resiko).</p>
<p style="text-align: justify;">Sensori Neural<br />
Data Subyektif :<br />
Pusing / syncope (sebelum CVA / sementara selama TIA).<br />
Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.<br />
Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati.<br />
Penglihatan berkurang.<br />
Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral (sisi yang sama).<br />
Gangguan rasa pengecapan dan penciuman.<br />
Data obyektif :<br />
Status mental : koma biasanya menandai stadium perdarahan, gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif.<br />
Ekstremitas : kelemahan / paraliysis (kontralateral) pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam (kontralateral).<br />
Wajah: paralisis / parese (ipsilateral).<br />
Afasia (kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa), kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya.<br />
Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil.<br />
Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik.<br />
Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral.</p>
<p style="text-align: justify;">Nyeri / kenyamanan<br />
Data Subyektif :<br />
Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya.<br />
Data obyektif :<br />
Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial.</p>
<p style="text-align: justify;">Respirasi<br />
Data Subyektif :<br />
Perokok (factor resiko).</p>
<p style="text-align: justify;">Keamanan<br />
Data obyektif :<br />
Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan.<br />
Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit.<br />
Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali.<br />
Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh.<br />
Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang kesadaran diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Interaksi social<br />
Data obyektif :<br />
Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi.<br />
(Doenges E, Marilynn,2000).</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul</p>
<p style="text-align: justify;">Kerusakan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot, kontrol<br />
Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan perdarahan otak, oedem otak<br />
Kurang perawatan diri b.d kelemahan fisik<br />
Kerusakan komunikasi verbal b.d kerusakan otak<br />
Resiko kerusakan integritas kulit b.d faktor mekanik<br />
Resiko infeksi b.d penurunan pertahanan primer.</p>
<p style="text-align: justify;">Daftar Pustaka</p>
<p style="text-align: justify;">Barbara, CL., 1996, Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan proses keperawatan), Bandung.</p>
<p style="text-align: justify;">Brunner &amp; Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa: Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, alih bahasa: Tim PSIK UNPAD Edisi-6, EGC, Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Corwin, 2000, Hand Book Of Pathofisiologi, EGC, Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Doenges,M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1993, Rencana Asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan pendukomentasian perawatan Pasien, Edisi-3, Alih bahasa; Kariasa,I.M., Sumarwati,N.M., EGC, Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tim spesialis dr. penyakit dalam RSUP dr.Sardjito, 2004, Kuliah ilmu penyakit dalam PSIK – UGM, Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Mansjoer, Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FK-UI, Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">McCloskey&amp;Bulechek, 1996, Nursing Interventions Classifications, Second edisi, By Mosby-Year book.Inc,Newyork.</p>
<p style="text-align: justify;">NANDA, 2001-2002, Nursing Diagnosis: Definitions and classification, Philadelphia, USA</p>
<p style="text-align: justify;">University IOWA., NIC and NOC Project., 1991, Nursing outcome Classifications, Philadelphia, USA</p>
<p style="text-align: justify;">Wilkinson, Judith, 2007, Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, EGC, Jakarta</p>
<h3 style="text-align: justify;">Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke</h3>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/klasifikasi-patogenesis-dan-patologi-tb-paru/"  title="klasifikasi patogenesis dan patologi tb paru">klasifikasi patogenesis dan patologi tb paru</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/penebalan-pembuluh-kapiler/"  title="penebalan pembuluh kapiler">penebalan pembuluh kapiler</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/sirkulasi-serebral/"  title="sirkulasi serebral">sirkulasi serebral</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Stroke</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-meningitis/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/r7_meningitis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis" title="Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-meningitis/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis &nbsp; A. Pengertian Meningitis Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hipertensi/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/hipertensi-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Hipertensi" title="Asuhan Keperawatan Hipertensi" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hipertensi/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Hipertensi</a></h4><p>ASKEP HIPERTENSI I. PENGERTIAN Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-sirosis-hepatis/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/ymyliv4n-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Pada Pasien Sirosis Hepatis" title="Asuhan Keperawatan Pada Pasien Sirosis Hepatis" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-sirosis-hepatis/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Pada Pasien Sirosis Hepatis</a></h4><p>1. Pengertian Sirosis hepatis adalah penyakit hati menahun yang ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bronkiektasis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" title="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru) A. Pengertian Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/nifas-150x150.jpg" alt="Infeksi Masa Nifas" title="Infeksi Masa Nifas" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/"  rel="bookmark">Infeksi Masa Nifas</a></h4><p>Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman – kuman ke dalam alat – alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-stroke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 23:59:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Akan]]></category>
		<category><![CDATA[Alveoli]]></category>
		<category><![CDATA[anatomi fisiologi tuberkulosis paru]]></category>
		<category><![CDATA[Apeks]]></category>
		<category><![CDATA[Asam]]></category>
		<category><![CDATA[askep sesak napas]]></category>
		<category><![CDATA[askep TB paru]]></category>
		<category><![CDATA[askep Tuberkulosis Paru]]></category>
		<category><![CDATA[bakteri tb pada otak]]></category>
		<category><![CDATA[Batang]]></category>
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[foto thorax pada tb]]></category>
		<category><![CDATA[foto thorax tb paru]]></category>
		<category><![CDATA[foto toraks tb paru]]></category>
		<category><![CDATA[foto toraks tb primer pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[gambar tuberculosis paru]]></category>
		<category><![CDATA[gambar tuberkulosis]]></category>
		<category><![CDATA[gambaran tb paru]]></category>
		<category><![CDATA[Gram Positif]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[Kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Klien]]></category>
		<category><![CDATA[Kuman]]></category>
		<category><![CDATA[Maka]]></category>
		<category><![CDATA[medula spinalis yang berhubungan dengan penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[Merangsang]]></category>
		<category><![CDATA[Mycobacterium Tuberculosis]]></category>
		<category><![CDATA[paru - paru penderita tuberkulosis]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi tbc paru]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi tetanus neonatorum]]></category>
		<category><![CDATA[Patogen]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan thorax tbc]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit tuberkulosis]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[pneomothorax]]></category>
		<category><![CDATA[Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Tahan]]></category>
		<category><![CDATA[tb paru]]></category>
		<category><![CDATA[Terangsang]]></category>
		<category><![CDATA[tuberkel paru]]></category>
		<category><![CDATA[tuberkulosis]]></category>
		<category><![CDATA[Tuberkulosis Paru]]></category>
		<category><![CDATA[www tb paru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru) A. Pengertian Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tettapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: justify;">Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</h2>
<p style="text-align: justify;">A. Pengertian</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bronkiektasis.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-127" title="bronkiektasis" src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bronkiektasis-150x150.jpg" alt="bronkiektasis" width="150" height="150" /></a><strong>Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</strong>. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tettapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 ?m, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah.</p>
<p style="text-align: justify;">B. Etiologi</p>
<p style="text-align: justify;">Penyebabnya adalah kuman microorganisme yaitu mycobacterium tuberkulosis dengan ukuran panjang 1 – 4 um dan tebal 0,3 – 0,6 um, termasuk golongan bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam.</p>
<p style="text-align: justify;">C. Patofisiologi</p>
<p style="text-align: justify;">Penularan terjadi karena kuman dibatukan atau dibersinkan keluar menjadi droflet nuklei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1 – 2 jam, tergantung ada atau tidaknya sinar ultra violet. dan ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan sampai berhari – hari bahkan berbulan, bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang sehat akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan berkembang bisa sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula keduanya dengan melewati pembuluh linfe, basil berpindah kebagian paru – paru yang lain atau jaringan tubuh yang lain.<br />
Setelah itu infeksi akan menyebar melalui sirkulasi, yang pertama terangsang adalah limfokinase, yaitu akan dibentuk lebih banyak untuk merangsang macrofage, berkurang tidaknya jumlah kuman tergantung pada jumlah macrofage. Karena fungsinya adalah membunuh kuman / basil apabila proses ini berhasil &amp; macrofage lebih banyak maka klien akan sembuh dan daya tahan tubuhnya akan meningkat.<br />
Tetapi apabila kekebalan tubuhnya menurun maka kuman tadi akan bersarang didalam jaringan paru-paru dengan membentuk tuberkel (biji – biji kecil sebesar kepala jarum).<br />
Tuberkel lama kelamaan akan bertambah besar dan bergabung menjadi satu dan lama-lama timbul perkejuan ditempat tersebut.apabila jaringan yang nekrosis dikeluarkan saat penderita batuk yang menyebabkan pembuluh darah pecah, maka klien akan batuk darah (hemaptoe).</p>
<p style="text-align: justify;">D. Tanda dan Gejala</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda dan gejala pada klien secara obyektif adalah :</p>
<p style="text-align: justify;">Keadaan postur tubuh klien yang tampak etrangkat kedua bahunya.<br />
BB klien biasanya menurun; agak kurus.<br />
Demam, dengan suhu tubuh bisa mencapai 40 &#8211; 41° C.<br />
Batu lama, &gt; 1 bulan atau adanya batuk kronis.<br />
Batuk yang kadang disertai hemaptoe.<br />
Sesak nafas.<br />
Nyeri dada.<br />
Malaise, (anorexia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot, berkeringat pada malam hari).</p>
<p style="text-align: justify;">E. Pemeriksaan Penunjang</p>
<p style="text-align: justify;">Kultur sputum : positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit.<br />
Ziehl Neelsen : (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) positif untuk basil asam cepat.<br />
Test kulit : (PPD, Mantoux, potongan vollmer) ; reaksi positif (area durasi 10 mm) terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi intra dermal. Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda.<br />
Elisa / Western Blot : dapat menyatakan adanya HIV.<br />
Foto thorax ; dapat menunjukan infiltrsi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan, perubahan menunjukan lebih luas TB dapat masuk rongga area fibrosa.<br />
Histologi atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster ; urien dan cairan serebrospinal, biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium tubrerkulosis.<br />
Biopsi jarum pada jarinagn paru ; positif untuk granula TB ; adanya sel raksasa menunjukan nekrosis.<br />
Elektrosit, dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi ; ex ;Hyponaremia, karena retensi air tidak normal, didapat pada TB paru luas. GDA dapat tidak normal tergantung lokasi, berat dan kerusakan sisa pada paru.<br />
Pemeriksaan fungsi pada paru ; penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru kronis luas).</p>
<p style="text-align: justify;">F. Penatalaksanaan</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian :</p>
<p style="text-align: justify;">Jangka pendek.<br />
Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan.<br />
Streptomisin inj 750 mg.<br />
Pas 10 mg.<br />
Ethambutol 1000 mg.<br />
Isoniazid 400 mg.<br />
Kemudian dilanjutkan dengan jangka panjang, tata cara pengobatannya adalah setiap 2 x seminggu, selama 13 – 18 bulan, tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi.<br />
Therapi TB paru dapat dilakkukan dengan minum obat saja, obat yang diberikan dengan jenis :<br />
INH.<br />
Rifampicin.<br />
Ethambutol.<br />
Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat :<br />
Rifampicin.<br />
Isoniazid (INH).<br />
Ethambutol.<br />
Pyridoxin (B6).</p>
<h1 style="text-align: justify;">
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TUBERKULOSIS PARU<br />
(TB PARU)</h1>
<p style="text-align: justify;">A. Pengkajian</p>
<p style="text-align: justify;">Aktivitas / istirahat.<br />
Gejala :<br />
Kelelahan umum dan kelemahan.<br />
Nafas pendek karena bekerja.<br />
Kesulitan tidur pada malam atau demam pada malam hari, menggigil dan atau berkeringat.<br />
Mimpi buruk.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda :<br />
Takhikardi, tachipnoe, / dispnoe pada kerja.<br />
Kelelahan otot, nyeri dan sesak (pada tahap lanjut).</p>
<p style="text-align: justify;">Integritas Ego.<br />
Gejala :<br />
Adanya faktor stres lama.<br />
Masalah keuanagan, rumah.<br />
Perasaan tak berdaya / tak ada harapan.<br />
Populasi budaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda :<br />
Menyangkal. (khususnya selama tahap dini).<br />
Ancietas, ketakutan, mudah tersinggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Makanan / cairan.<br />
Gejala :<br />
Anorexia.<br />
Tidak dapat mencerna makanan.<br />
Penurunan BB.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda :<br />
Turgor kulit buruk.<br />
Kehilangan lemak subkutan pada otot.</p>
<p style="text-align: justify;">Nyeri / kenyamanan.<br />
Gejala :<br />
Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda :<br />
Berhati-hati pada area yang sakit.<br />
Perilaku distraksi, gelisah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernafasan.<br />
Gejala :<br />
Batuk produktif atau tidak produktif.<br />
Nafas pendek.<br />
Riwayat tuberkulosis / terpajan pada individu terinjeksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda :<br />
Peningkatan frekuensi nafas.<br />
Pengembangan pernafasan tak simetris.<br />
Perkusi dan penurunan fremitus vokal, bunyi nafas menurun tak secara bilateral atau unilateral (effusi pleura / pneomothorax) bunyi nafas tubuler dan / atau bisikan pektoral diatas lesi luas, krekels tercatat diatas apeks paru selam inspirasi cepat setelah batuk pendek (krekels – posttusic).<br />
Karakteristik sputum ; hijau purulen, mukoid kuning atau bercampur darah.<br />
Deviasi trakeal ( penyebaran bronkogenik ).<br />
Tak perhatian, mudah terangsang yang nyata, perubahan mental ( tahap lanjut ).</p>
<p style="text-align: justify;">Keamanan.<br />
Gejala :<br />
Adanya kondisi penekana imun, contoh ; AIDS, kanker, tes HIV positif (+)</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda :<br />
Demam rendah atau sakit panas akut.</p>
<p style="text-align: justify;">Interaksi sosial.<br />
Gejala :<br />
Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular.<br />
Perubahan pola biasa dalam tangguang jaawab / perubahan kapasitas fisik untuk melaksankan peran.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyuluhan / pembelajaran.<br />
Gejala :<br />
Riwayat keluarga TB.<br />
Ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk.<br />
Gagal untuk membaik / kambuhnya TB.<br />
Tidak berpartisipasi dalam therapy.</p>
<p style="text-align: justify;">B. Diagnosa keperawatan Yang Muncul</p>
<p style="text-align: justify;">Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.<br />
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.</p>
<p style="text-align: justify;">C. Intervensi</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosa Keperawatan 1. :<br />
Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental/darah.<br />
Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif.<br />
Kriteria hasil :</p>
<p style="text-align: justify;">Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara.<br />
Mendemontrasikan batuk efektif.<br />
Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.</p>
<p style="text-align: justify;">Intervensi :</p>
<p style="text-align: justify;">Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.<br />
R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.<br />
Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.<br />
R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.<br />
Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.<br />
R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.<br />
Lakukan pernapasan diafragma.<br />
R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.<br />
Tahan napas selama 3 &#8211; 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.<br />
R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.<br />
Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.<br />
R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.<br />
Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.<br />
R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.<br />
Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.<br />
R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.<br />
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter : pemberian expectoran, pemberian antibiotika, konsul photo toraks.<br />
R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosis Keperawatan 2. :<br />
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.<br />
Tujuan : Pertukaran gas efektif.<br />
Kriteria hasil :</p>
<p style="text-align: justify;">Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif.<br />
Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.<br />
Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.</p>
<p style="text-align: justify;">Intervensi :</p>
<p style="text-align: justify;">Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.<br />
R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.<br />
Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.<br />
R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.<br />
Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.<br />
R/Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.<br />
Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.<br />
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.<br />
Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.<br />
R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.<br />
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter : pemberian antibiotika, pemeriksaan sputum dan kultur sputum, konsul photo toraks.<br />
R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.</p>
<p style="text-align: justify;">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p style="text-align: justify;">Doenges. E. Marylin. 1992.Nursing Care Plan. EGC. Jakarta.<br />
Pearce. C. Evelyn. 1990.Anatomi dan Fisiologi untuk paramedis. Jakarta.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</h3>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/tuberkulosis/"  title="tuberkulosis">tuberkulosis</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/tuberkulosis-paru/"  title="tuberkulosis paru"><i>tuberkulosis paru</i></a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/gambaran-tb-paru/"  title="gambaran tb paru">gambaran tb paru</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/mycobacterium-tuberculosis/"  title="mycobacterium tuberculosis">mycobacterium tuberculosis</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/gambar-tb-paru/"  title="GAMBAR TB PARU">GAMBAR TB PARU</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan <u>Tuberkulosis Paru</u> (TB Paru)</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/sinusitis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis" title="Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-sinusitis/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis</a></h4><p>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Sinusitis A. Pengertian Sinusitis adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. B. Etiologi Rinogen Obstruksi dari ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/nifas-150x150.jpg" alt="Infeksi Masa Nifas" title="Infeksi Masa Nifas" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/"  rel="bookmark">Infeksi Masa Nifas</a></h4><p>Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman – kuman ke dalam alat – alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-tetanus-neonatorum/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/imun1-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum" title="Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-tetanus-neonatorum/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum</a></h4><p>Tetanus Neonatorum A. PENGERTIAN Tetanus berasal dari kata tetanos (Yunani) yang berarti peregangan. Tetanus Neonatorum : Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-meningitis/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/r7_meningitis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis" title="Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-meningitis/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis &nbsp; A. Pengertian Meningitis Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-pasie-benigna-prostat-hipertropi-bph/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/11/prostate-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Pasie Benigna Prostat Hipertropi (BPH | Hipertropi Prostat" title="Asuhan Keperawatan pada Pasie Benigna Prostat Hipertropi (BPH | Hipertropi Prostat" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-pasie-benigna-prostat-hipertropi-bph/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Pasie Benigna Prostat Hipertropi (BPH | Hipertropi Prostat</a></h4><p>Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Benigna Prostat Hipertropi (BPH) A. Pengertian Hipertropi Prostat Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-tetanus-neonatorum/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-tetanus-neonatorum/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 23:53:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Anaerob]]></category>
		<category><![CDATA[asfiksia neonatorum]]></category>
		<category><![CDATA[asfiksia neonatorum adalah]]></category>
		<category><![CDATA[askeb perdarahan tali pusat]]></category>
		<category><![CDATA[askep tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[askep Tetanus Neonatorum]]></category>
		<category><![CDATA[askep tetanus pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada klien tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[bayi baru lahir dengan tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[bentuk bayi 4 bulan dalam kandungan]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[bronkiektasis radiologi]]></category>
		<category><![CDATA[cara pemeriksaan denyut jantung janin]]></category>
		<category><![CDATA[Clostridium Tetani]]></category>
		<category><![CDATA[gambar tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[Gram Positif]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan]]></category>
		<category><![CDATA[Kalsium]]></category>
		<category><![CDATA[kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuman]]></category>
		<category><![CDATA[mekanisme kejang tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[Mulut]]></category>
		<category><![CDATA[Nanah]]></category>
		<category><![CDATA[Oxigen]]></category>
		<category><![CDATA[pathway bayi baru lahir normal]]></category>
		<category><![CDATA[patoflow tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[Pencernaan Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian tetanus neonatorum]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian toksoid]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan fisiologis pada bbl]]></category>
		<category><![CDATA[pusat asuhan bayi]]></category>
		<category><![CDATA[radiologi bronkiektasis]]></category>
		<category><![CDATA[risus sardonicus pada bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Saluran Pencernaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sel Saraf]]></category>
		<category><![CDATA[Sinaps]]></category>
		<category><![CDATA[Spora]]></category>
		<category><![CDATA[Sumsum]]></category>
		<category><![CDATA[Tahan Lama]]></category>
		<category><![CDATA[Tali pusat]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus anak]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tetanus Neonatorum]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus neonatorum pada bayi baru lahir]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus neonatus]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus pada bayi baru lahir]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus pada kaki]]></category>
		<category><![CDATA[Toksin]]></category>
		<category><![CDATA[Vegetatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Tetanus Neonatorum A. PENGERTIAN Tetanus berasal dari kata tetanos (Yunani) yang berarti peregangan. Tetanus Neonatorum : Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik yang khas, setelah 2 hari pertama bayi hidup, menangis dan menyusu secara normal, pada hari ketiga atau lebih timbul kekakuan seluruh tubuh yang ditandai dengan kesulitan membuka mulut dan menetek, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align: justify;">Tetanus Neonatorum</h1>
<p style="text-align: justify;">A. PENGERTIAN<br />
<a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/imun1.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-123" title="tetanus neonatorum" src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/imun1-150x150.jpg" alt="tetanus neonatorum" width="150" height="150" /></a>Tetanus berasal dari kata tetanos (Yunani) yang berarti peregangan.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Tetanus Neonatorum :</h3>
<p style="text-align: justify;">Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik yang khas, setelah 2 hari pertama bayi hidup, menangis dan menyusu secara normal, pada hari ketiga atau lebih timbul kekakuan seluruh tubuh yang ditandai dengan kesulitan membuka mulut dan menetek, disusul dengan kejang–kejang (WHO, 1989).<br />
Kejang yang sering di jumpai pada BBL, yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia, tetapi disebabkan oleh infeksi selama masa neonatal, yang antara lain terjadi sebagai akibat pemotongan tali pusat atau perawatannya yang tidak bersih Ngastijah, 1997).</p>
<p style="text-align: justify;">B. ETIOLOGI<br />
Penyebab <i>tetanus neonatorum</i> adalah clostridium tetani yang merupakan kuman gram positif, anaerob, bentuk batang dan ramping. Kuman tersebut terdapat ditanah, saluran pencernaan manusia dan hewan. Kuman clostridium tetani membuat spora yang tahan lama dan menghasilkan 2 toksin utama yaitu tetanospasmin dan tetanolysin.</p>
<p style="text-align: justify;">C. PATOFISIOLOGI<br />
Spora yang masuk dan berada dalam lingkungan anaerobic berubah menjadi bentuk vegetatif dan berbiak sambil menghasilkan toxin. Dalam jaringan yang anaerobic ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oxigen jaringan akibat adanya nanah, nekrosis jaringan, garam kalsium yang dapat diionisasi. Secara intra axonal toxin disalurkan ke sel saraf (cel body) yang memakan waktu sesuai dengan panjang axonnya dan aktifitas serabutnya. Belum terdapat perubahan elektrik dan fungsi sel saraf walaupun toksin telah terkumpul dalam sel. Dalam sungsum belakang toksin menjalar dari sel saraf lower motorneuron ke lekuk sinaps dan diteruskan ke ujung presinaps dari spinal inhibitory neurin. Pada daerah inilah toksin menimbulkan gangguan pada inhibitory transmitter dan menimbulkan kekakuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek Toxin pada :</p>
<p style="text-align: justify;">Ganglion pra sumsum tulang belakang :<br />
Memblok sinaps jalur antagonist, mengubah keseimbangan dan koordinasi impuls sehingga tonus ototnya meningkat dan otot menjadi kaku. Terjadi penekanan pada hiperpolarisasi membran dari neurons yang merupakan mekanisme yang umum terjadi bila jalur penghambat terangsang. Depolarisasi yang berkaitan dengan jalur rangsangan tidak terganggu. Toksin menyebabkan hambatan pengeluaran inhibitory transmitter dan menekan pengaruh bahan ini pada membran neuron motorik.<br />
Otak :<br />
Toxin yang menempel pada cerebral gangliosides diduga menyebabkan gejala kekakuan dan kejang yang khas pada tetanus. Hambatan antidromik akibat rangsangan kortikal menurun.<br />
Saraf otonom :<br />
Terutama mengenai saraf simpatis dan menimbulkan gejala keringat yang berlebihan, hiperthermia, hypotensi, hypertensi, arytmia cardiac block atau takhikardia. Sekalipun otot yang terkena adalah otot bergaris terutama otot penampang dan penggerak tubuh yang besar-besar, pada tetanus berat otot polos juga ikut terkena, sehingga timbul manifestasi klinik seperti disebutkan diatas.</p>
<p style="text-align: justify;">D. MANIFESTASI<br />
Gejala klinik pada <u>tetanus neonatorum</u> sangat khas sehingga masyarakat yang primitifpun mampu mengenalinya sebagai “penyakit hari kedelapan” (Jaffari, Pandit dan Ismail 1966). Anak yang semula menangis, menetek dan hidup normal, mulai hari ketiga menunjukan gejala klinik yang bervariasi mulai dari kekakuan mulut dan kesulitan menetek, risus sardonicus sampai opistotonus. Trismus pada tetanus neonatorum tidak sejelas pada penderita anak atau dewasa, karena kekakuan otot leher lebih kuat dari otot masseter, sehingga rahang bawah tertarik dan mulut justru agak membuka dan kaku (Athvale, dan Pai, 1965, Marshall, 1968). Bentukan mulut menjadi mecucu (Jw) seperti mulut ikan karper. Bayi yang semula kembali lemas setelah kejang dengan cepat menjadi lebih kaku dan frekuensi kejang-kejang menjadi makin sering dengan tanda-tanda klinik kegagalan nafas (Irwantono, Ismudijanto dan MF Kaspan 1987). Kekakuan pada tetanus sangat khusus : fleksi pada tangan, ekstensi pada tungkai namun fleksi plantar pada jari kaki tidak tampak sejelas pada penderita anak.<br />
Kekakuan dimulai pada otot-otot setempat atau trismus kemudian menjalar ke seluruh tubuh, tanpa disertai gangguan kesadaran. Seluruh tubuh bayi menjadi kaku, bengkok (flexi) pada siku dengan tangan dikepal keras keras. Hipertoni menjadi semakin tinggi, sehingga bayi dapat diangkat bagaikan sepotong kayu. Leher yang kaku seringkali menyebabkan kepala dalam posisi menengadah.</p>
<p style="text-align: justify;">Gambaran Umum pada Tetanus</p>
<p style="text-align: justify;">Trismus (lock-jaw, clench teeth)<br />
Adalah mengatupnya rahang dan terkuncinya dua baris gigi akibat kekakuan otot mengunyah (masseter) sehingga penderita sukar membuka mulut. Untuk menilai kemajuan dan kesembuhan secara klinik, lebar bukaan mulut diukur tiap hari. Trismus pada neonati tidak sejelas pada anak, karena kekakuan pada leher lebih kuat dan akan menarik mulut kebawah, sehingga mulut agak menganga. Keadaan ini menyebabkan mulut “mecucu” seperti mulut ikan tetapi terdapat kekakuan mulut sehingga bayi tak dapat menetek.<br />
Risus Sardonicus (Sardonic grin)<br />
Terjadi akibat kekakuan otot-otot mimic dahi mengkerut mata agak tertutup<br />
sudut mulut keluar dan kebawah manggambarkan wajah penuh ejekan sambil menahan kesakitan atau emosi yang dalam.<br />
Opisthotonus<br />
Kekakuan otot-otot yang menunjang tubuh : otot punggung, otot leher, trunk muscle dan sebagainya. Kekakuan yang sangat berat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur, bertumpu pada tumit dan belakang kepala. Secara klinik dapat dikenali dengan mudahnya tangan pemeriksa masuk pada lengkungan busur tersebut.<br />
Pada era sebelum diazepam, sering terjadi komplikasi compression fracture pada tulang vertebra.<br />
Otot dinding perut kaku, sehingga dinding perut seperti papan. Selain otot didnding perut, otot penyangga rongga dada juga kaku, sehingga penderita merasakan keterbatasan untuk bernafas atau batuk. Setelah hari kelima perlu diwaspadai timbulnya perdarahan paru (pada neonatus) atau bronchopneumonia.<br />
Bila kekakuan makin berat, akan timbul kejang-kejang umum, mula-mula hanya terjadi setelah penderita menerima rangsangan misalnya dicubit, digerakkan secara kasar, terpapar sinar yang kuat dan sebagainya, lambat laun “masa istirahat” kejang makin pendek sehingga anak jatuh dalam status convulsivus.<br />
Pada tetanus yang berat akan terjadi :<br />
Gangguan pernafasan akibat kejang yang terus-menerus atau oleh karena spasme otot larynx yang bila berat menimbulkan anoxia dan kematian.<br />
Pengaruh toksin pada saraf otonom akan menyebabkan gangguan sirkulasi (akibat gangguan irama jantung misalnya block, bradycardi, tachycardia, atau kelainan pembuluh darah/hipertensi), dapat pula menyebabkan suhu badan yang tinggi (hiperpireksia) atau berkeringat banyak hiperhidrosis).<br />
Kekakuan otot sphincter dan otot polos lain seringkali menimbulkan retentio alvi atau retention urinae.<br />
Patah tulang panjang (tulang paha) dan fraktur kompresi tulang belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">E. DIAGNOSIS, DIAGNOSA BANDING DAN KOMPLIKASI</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosa<br />
Pemeriksaan laboratorium : Liquor Cerebri normal, hitung leukosit normal atau sedikit meningkat. Pemeriksaan kadar elektrolit darah terutama kalsium dan magnesium, analisa gas darah dan gula darah sewaktu penting untuk dilakukan.<br />
Pemeriksaan radiologi : Foto rontgen thorax setelah hari ke-5.<br />
Diagnosa Banding<br />
Meningitis<br />
Meningoenchepalitis<br />
Enchepalitis<br />
Tetani karena hipocalsemia atau hipomagnesemia<br />
Trismus karena process lokal<br />
Komplikasi<br />
Bronkhopneumonia<br />
Asfiksia<br />
Sepsis Neonatorum</p>
<p style="text-align: justify;">F. FAKTOR RESIKO DAN PENCEGAHAN</p>
<p style="text-align: justify;">Faktor resiko<br />
Tetanus neonatorum terjadi pada masa perinatal, antara umur 0 sampai 28 hari, terutama pada saat luka puntung tali pusat belum kering, sehingga spora C. tetani dapat mencemari dan berbiak menjadi kuman vegetatif.<br />
Menurut Foster, (1983) serta Sub Dinas PPM Propinsi Jawa Timur, (1989) terdapat 5 faktor resiko pokok tetanus neonatorum yaitu : (a) faktor resiko pencemaran lingkungan fisik dan biologik, (b) faktor cara pemotongan tali pusat, (c) faktor cara perawatan tali pusat, (d) faktor kebersihan pelayanan persalinan dan (e) faktor kekebalan ibu hamil.<br />
Faktor Risiko Pencemaran Lingkungan Fisik dan Biologik<br />
Merupakan faktor yang menentukan kepadatan kuman dan tingginya tingkat pencemaran spora di lingkungannya. Risiko akan hilang bila lahan pertanian dan peternakan diubah penggunaannya.<br />
Faktor Cara Pemotongan Tali Pusat<br />
Penggunaan sembilu, pisau cukur atau silet untuk memotong tali pusat tergantung pada pengertian masyarakat akan sterilitas. Setelah dipotong, tali pusat dapat disimpul erat-erat atau diikat dengan benang. Penolong persalinan biasanya lebih memusatkan perhatian pada ”kelahiran” plasenta dan perdarahan ibu.<br />
Faktor Cara Perawatan Tali Pusat<br />
Tata cara perawatan perinatal sangat berkaitan erat dengan hasil interaksi antara tingkat pengetahuan, budaya, ekonomi masyarakat dan adanya pelayanan kesehatan di lingkungan sekitarnya. Masyarakat di banyak daerah masih menggunakan daun-daun, ramuan, serbuk abu dan kopi untuk pengobatan luika puntung tali pusat. Kebiasaan ini tidak dapat dihilangkan hanya dengan pendidikan dukun bayi saja.<br />
Faktor Kebersihan Pelayanan Persalinan<br />
Merupakan interaksi antara kondisi setempat dengan tersedianya pelayanan kesehatan yang baik di daerah tersebut yang menentukan subyek penolong persalinan dan kebersihan persalinan. Untuk daerah terpencil yang belum terjangkau oleh pelayanan persalinan yang higienis maupun daerah perkotaan yang biaya persalinannya tak terjangkau oleh masarakat, peranan dukun bayi (terlatih atau tidak) maupun penolong lain sangatlah besar. Pelatihan dukun bayi dapat menurunkan kematian perinatal namun tidak berpengaruh pada kejadian tetanus neonatorum.<br />
Masih banyak ibu yang tidak memeriksakan kehamilannya (25 sampai 60%) dan lebih banyak lagi yang persalinannya tidak ditolong oleh tenaga medis (70%) sehingga resiko tetanus neonatorum bagi bayi lahir di Indonesia besar.<br />
Faktor Kekebalan Ibu Hamil<br />
Merupakan faktor yang sangat penting. Antibodi antitetanus dalam darah ibu hamil yang dapat disalurkan pada bayinya dapat mencegah manifestasi klinik infeksi dengan kuman C. tetani (Suri, dkk,1964). Suntikan tetanus toksoid 1 kalipun dapat mengurangi kematian tetanus neonatorum dari 70-78 per 1000 kelahiran hidup menjadi 40 per 1000 kelahiran hidup (Newell, 1966, Black, 1980, Rahman, 1982).</p>
<p style="text-align: justify;">Pencegahan<br />
Tindakan pencegahan bahkan eliminasi terutama bersandar pada tindakan menurunkan atau menghilangkan factor-faktor resiko. Meskipun banyak faktor resiko yang telah dikenali dan diketahui cara kerjanya, namun tidak semua dapat dihilangkan, misalnya lingkungan fisik dan biologik. Menekan kejadian tetanus neonatorum dengan mengubah lingkungan fisik dan biologik tidaklah mudah karena manusia memerlukan daerah pertanian dan peternakan untuk produksi pangan mereka.<br />
Pendekatan pengendalian lingkungan dapat dilakukan dengan mengupayakan kebersihan lingkungan yang maksimal agar tidak terjadi pencemaran spora pada proses persalinan, pemotongan dan perawatan tali pusat. Mengingat sebagian besar persalinan masih ditolong oleh dukun, maka praktek 3 bersih, yaitu bersih tangan, alat pemotong tali pusat dan alas tempat tidur ibu (Dep. Kesehatan, 1992), serta perawatan tali pusat yang benar sangat penting dalam kurikulum pendidikan dukun bayi. Bilamana attack rate tak dapat diturunkan dan penurunan faktor risiko persalinan serta perawatan tali pusat memerlukan waktu yang lama, maka imunisasi ibu hamil merupakan salah satu jalan pintas yang memungkinkan untuk ditempuh.<br />
Pemberian tokoid tetanus kepada ibu hamil 3 kali berturut-turut pada trimester ketiga dikatakan sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum. Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril dan perawatan tali pusat selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">G. TATA LAKSANA</p>
<p style="text-align: justify;">Medik<br />
Empat pokok dasar tata laksana medik : debridement, pemberian antibiotik, menghentikan kejang, serta imunisasi pasif dan aktif, yang dapat dijabarkan sebagai berikut :<br />
Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis dalam perbandingan 4 : 1 selama 48-72 jam selanjutnya IVFD hanya untuk memasukan obat. Jika pasien telah dirawat lebih dari 24 jam atau pasien sering kejang atau apnea, diberikan larutan glukosa 10% dan natrium bikarbonat 1,5% dalam perbandingan 4 : 1 (jika fasilitas ada lebih baik periksa analisa gas darah dahulu). Bila setelah 72 jam bayi belum mungkin diberi minum peroral/sonde, melalui infus diberikan tambahan protein dan kalium.<br />
Diazepam dosis awal 2,5 mg intravena perlahan-lahan selama 2-3 menit, kemudian diberikan dosis rumat 8-10 mg/kgBB/hari melalui IVFD (diazepam dimasukan ke dalam cairan infus dan diganti setiap 6 jam). Bila kejang masih sering timbul, boleh ditambah diazepam lagi 2,5 mg secara intravena perlahan-lahan dan dalam 24 jam berikutnya boleh diberikan tembahan diazepam 5 mg/kgBB/hari sehingga dosis diazepam keseluruhannya menjadi 15 mg/kgBB/hari. Setelah keadaan klinis membaik, diazepam diberikan peroral dan diurunkan secara bertahap. Pada pasien dengan hiperbilirubinemia berat atau bila makin berat, diazepam diberikan per oral dan setelah bilirubin turun boleh diberikan secara intravena.<br />
ATS 10.000 U/hari, diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM. Perinfus diberikan 20.000 U sekaligus.<br />
Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis, intravena selama 10 hari. Bila pasien menjadi sepsis pengobatan seperti pasien lainnya. Bila pungsi lumbal tidak dapat dilakukan pengobatan seperti yang diberikan pada pasien meningitis bakterialis.<br />
Tali pusat dibersihkan/kompres dengan alcohol 70%/Betadine 10%.<br />
Perhatikan jalan napas, diuresis, dan tanda vital. Lendir sering dihisap.</p>
<p style="text-align: justify;">Keperawatan<br />
Perawatan intensif terutama ditujukan untuk mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi, menjaga saluran nafas tetap bebas, mempertahankan oksignasi yang adekuat, dan mencegah hipotermi. Perawatan puntung tali pusat sangat penting untuk membuang jaringan yang telah tercemar spora dan mengubah keadaan anaerob jaringan yang rusak, agar oksigenasi bertambah dan pertumbuhan bentuk vegetatif maupun spora dapat dihambat. setelah puntung tali pusat dibersihkan dengan perhydrol, dibutuhkan povidon 10% dan dirawat secara terbuka. Perawatan puntung tali pusat dilakukan minimal 3 kali sehari.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<h2 style="text-align: center;">ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TETANUS NEONATORUM</h2>
<p style="text-align: justify;">Pengkajian<br />
Identitas<br />
Riwayat Keperawatan : antenatal, intranatal, postnatal.<br />
Pemeriksaan Fisik<br />
Keadaan Umum : Lemah, sulit menelan, kejang<br />
Kepala : Poisi menengadah, kaku kuduk, dahi mengkerut, mata agak tertutup, sudut mulut keluar dan kebawah.<br />
Mulut : Kekakuan mulut, mengatupnya rahang, seperti mulut ikan.<br />
Dada : Simetris, kekakuan otot penyangga rongga dada, otot punggung.<br />
Abdomen : Dinding perut seperti papan.<br />
Kulit : Turgor kurang, pucat, kebiruan.<br />
Ekstremitas : Flexi pada tangan, ekstensi pada tungkai, hipertoni sehingga bayi dapat diangkat bagai sepotong kayu.<br />
Pemeriksaan Persistem<br />
Respirasi : Frekuensi nafas, penggunaan otot aksesori, bunyi nafas, batuk-pikel.<br />
Kardiovaskuler : Frekuensi, kualitas dan irama denyut jantung, pengisian kapiler, sirkulasi, berkeringat, hiperpirexia.<br />
Neurologi : Tingkat kesadaran, reflek pupil, kejang karena rangsangan.<br />
Gastrointestinal : Bising usus, pola defekasi, distensi<br />
Perkemihan : Produksi urine<br />
Muskuloskeletal : Tonus otot, pergerakan, kekakuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul</p>
<p style="text-align: justify;">Ketidakefektifan pola nafas b.d kelelahan otot-otot respirasi<br />
Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b.d refleks menghisap pada bayi tidak adekuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Intervensi<br />
Ketidakefektifan pola nafas b.d kelelahan otot-otot respirasi<br />
Intervensi :<br />
Kaji frekuensi dan pola nafas<br />
Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung, tonus otot dan warna kulit.<br />
Lakukan pemantauan jantung dan pernafasam secara kontinue.<br />
Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan.<br />
Beri rangsang taktil segera setelah apnea.<br />
Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.<br />
Beri O2 sesuai indikasi.<br />
Beri obat-obatan sesuai indikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b.d refleks menghisap pada bayi tidak adekuat.<br />
Intervensi :<br />
Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan, menghisap, menelan dan batuk.<br />
Auskultasi bising usus.<br />
Kaji tanda-tanda hipoglikemia.<br />
Beri suplemen elektrolit sesuai medikasi.<br />
Beri nutrisi parenteral.<br />
Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.<br />
Lakukan pemberian minum sesuai toleransi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum</strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/tetanus-neonatorum/"  title="tetanus neonatorum">tetanus neonatorum</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/tetanus/"  title="tetanus">tetanus</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/picture-of-tetanus-neonatorum/"  title="picture of tetanus neonatorum">picture of tetanus neonatorum</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/tetanus-neonatus/"  title="tetanus neonatus">tetanus neonatus</a></li><li><a href="http://www.bidandesa.tk/search/gambar-tetanus/"  title="gambar tetanus">gambar tetanus</a></li></ul><div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/bagaimana-cara-memotong-tali-pusat/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/Penyebab-Bayi-Meninggal-karena-Tali-Pusat-300x203.jpg" alt="Bagaimana Cara memotong Tali Pusat" title="Bagaimana Cara memotong Tali Pusat" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/bagaimana-cara-memotong-tali-pusat/"  rel="bookmark">Bagaimana Cara memotong Tali Pusat</a></h4><p>Pengertian Tali pusat atau Umbilical Cord adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan. Dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama 9 bulan 10 ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/nifas-150x150.jpg" alt="Infeksi Masa Nifas" title="Infeksi Masa Nifas" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/"  rel="bookmark">Infeksi Masa Nifas</a></h4><p>Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman – kuman ke dalam alat – alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-eklamsia-post-partum/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/pre+eklamsia+kehamilan-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum" title="Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-eklamsia-post-partum/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum</a></h4><p>Pengertian Eklamsia adalah Penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam nifas dengan hipertensi, oedema dan proteinuria (Obtetri Patologi,R. Sulaeman Sastrowinata, 1981 ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hipertensi/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/hipertensi-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Hipertensi" title="Asuhan Keperawatan Hipertensi" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hipertensi/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Hipertensi</a></h4><p>ASKEP HIPERTENSI I. PENGERTIAN Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bronkiektasis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" title="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru) A. Pengertian Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-tetanus-neonatorum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asuhan Keperawatan Pada Pasien Sirosis Hepatis</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-sirosis-hepatis/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-sirosis-hepatis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 23:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsen]]></category>
		<category><![CDATA[Arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[Dimana]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Hepatitis Virus]]></category>
		<category><![CDATA[Infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Ikat]]></category>
		<category><![CDATA[Kadang Kadang]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Kimia]]></category>
		<category><![CDATA[Lanjut]]></category>
		<category><![CDATA[Luas]]></category>
		<category><![CDATA[Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Mengandung]]></category>
		<category><![CDATA[Minum]]></category>
		<category><![CDATA[Minuman]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[Sel Sel]]></category>
		<category><![CDATA[Sirosis Hepatis]]></category>
		<category><![CDATA[Suzanne C Smeltzer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[1. Pengertian Sirosis hepatis adalah penyakit hati menahun yang ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">1. Pengertian</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/ymyliv4n.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-119" title="hepatitis" src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/ymyliv4n-150x150.jpg" alt="hepatitis" width="150" height="150" /></a><b>Sirosis hepatis</b> adalah penyakit hati menahun yang ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut (Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2001).</p>
<p style="text-align: justify;">2. Etiologi</p>
<p style="text-align: justify;">Ada 3 tipe <i>sirosis hepatis</i> :<br />
Sirosis portal laennec (alkoholik nutrisional), dimana jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Sering disebabkan oleh alkoholis kronis.<br />
Sirosis pasca nekrotik, dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat lanjut dari hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya.<br />
Sirosis bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluran empedu. Terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan infeksi (kolangitis).</p>
<p style="text-align: justify;">3. Patofisiologi</p>
<p style="text-align: justify;">Minuman yang mengandung alkohol dianggap sebagai factor utama terjadinya <u>sirosis hepatis</u>. Selain pada peminum alkohol, penurunan asupan protein juga dapat menimbulkan kerusakan pada hati, Namun demikian, sirosis juga pernah terjadi pada individu yang tidak memiliki kebiasan minum dan pada individu yang dietnya normal tapi dengan konsumsi alkohol yang tinggi.<br />
Faktor lain diantaranya termasuk pajanan dengan zat kimia tertentu (karbon tetraklorida, naftalen, terklorinasi, arsen atau fosfor) atau infeksi skistosomiastis dua kali lebih banyak daripada wanita dan mayoritas pasien sirosis berusia 40 – 60 tahun.<br />
Sirosis laennec merupakan penyakit yang ditandai oleh nekrosis yang melibatkan sel-sel hati dan kadang-kadang berulang selama perjalanan penyakit sel-sel hati yang dihancurkan itu secara berangsur-angsur digantikan oleh jaringan parut yang melampaui jumlah jaringan hati yang masih berfungsi. Pulau-pulau jaringan normal yang masih tersisa dan jaringan hati hasil regenerasi dapat menonjal dari bagian-bagian yang berkonstriksi sehingga hati yang sirotik memperlihatkan gambaran mirip paku sol sepatu berkepala besar (hobnail appearance) yang khas.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Tanda dan Gejala</p>
<p style="text-align: justify;">Penyakit sirosis hepatis mempunyai gejala seperti ikterus dan febris yang intermiten. Adanya pembesaran pada hati. Pada awal perjalanan sirosis hepatis ini, hati cenderung membesar dan sel-selnya dipenuhi oleh lemak. Hati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi tajam yang dapat diketahui melalui palpasi. Nyeri abdomen dapat terjadi sebagai akibat dari pembesaran hati yang cepat dan baru saja terjadi sehingga mengakibatkan regangan pada selubung fibrosa hati (kapsula Glissoni). Pada perjalanan penyakit yang lebih lanjut, ukuran hati akan berkurang setelah jaringan parut menyebabkan pengerutan jaringan hati. Apabila dapat dipalpasi, permukaan hati akan teraba benjol-benjol (noduler). Obstruksi Portal dan Asites. Semua darah dari organ-organ digestif praktis akan berkumpul dalam vena portal dan dibawa ke hati. Karena hati yang sirotik tidak memungkinkan pelintasan darah yang bebas, maka aliran darah tersebut akan kembali ke dalam limpa dan traktus gastrointestinal dengan konsekuensi bahwa organ-organ ini menjadi tempat kongesti pasif yang kronis; dengan kata lain, kedua organ tersebut akan dipenuhi oleh darah dan dengan demikian tidak dapat bekerja dengan baik. Pasien dengan keadaan semacam ini cenderung menderita dispepsia kronis atau diare. Berat badan pasien secara berangsur-angsur mengalami penurunan.<br />
Cairan yang kaya protein dan menumpuk di rongga peritoneal akan menyebabkan asites. Hal ini ditunjukkan melalui perfusi akan adanya shifting dullness atau gelombang cairan. Splenomegali juga terjadi. Jaring-jaring telangiektasis, atau dilatasi arteri superfisial menyebabkan jaring berwarna biru kemerahan, yang sering dapat dilihat melalui inspeksi terhadap wajah dan keseluruhan tubuh. Varises Gastrointestinal. Obstruksi aliran darah lewat hati yang terjadi akibat perubahan fibrofik juga mengakibatkan pembentukan pembuluh darah kolateral sistem gastrointestinal dan pemintasan (shunting) darah dari pernbuluh portal ke dalam pernbuluh darah dengan tekanan yang lebih rendah. Sebagai akibatnya, penderita sirosis sering memperlihatkan distensi pembuluh darah abdomen yang mencolok serta terlihat pada inspeksi abdomen (kaput medusae), dan distensi pembuluh darah di seluruh traktus gastrointestinal. Esofagus, lambung dan rektum bagian bawah merupakan daerah yang sering mengalami pembentukan pembuluh darah kolateral.<br />
Karena fungsinya bukan untuk menanggung volume darah dan tekanan yang tinggi akibat sirosis, maka pembuluh darah ini dapat mengalami ruptur dan menimbulkan perdarahan. Karena itu, pengkajian harus mencakup observasi untuk mengetahui perdarahan yang nyata dan tersembunyi dari traktus gastrointestinal. Edema. Gejala lanjut lainnya pada sirosis hepatis ditimbulkan oleh gagal hati yang kronis. Konsentrasi albumin plasma menurun sehingga menjadi predisposisi untuk terjadinya edema. Produksi aldosteron yang berlebihan akan menyebabkan retensi natrium serta air dan ekskresi kalium.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Pemeriksaan penunjang</p>
<p style="text-align: justify;">Pemeriksaan Laboratorium<br />
Pada Darah dijumpai HB rendah, anemia normokrom normositer, hipokrom mikrositer / hipokrom makrositer, anemia dapat dari akibat hipersplemisme dengan leukopenia dan trombositopenia, kolesterol darah yang selalu rendah mempunyai prognosis yang kurang baik.<br />
Kenaikan kadar enzim transaminase &#8211; SGOT, SGPT bukan merupakan petunjuk berat ringannya kerusakan parenkim hati, kenaikan kadar ini timbul dalam serum akibat kebocoran dari sel yang rusak, pemeriksaan bilirubin, transaminase dan gamma GT tidak meningkat pada sirosis inaktif.<br />
Albumin akan merendah karena kemampuan sel hati yang berkurang, dan juga globulin yang naik merupakan cerminan daya tahan sel hati yang kurang dan menghadapi stress.<br />
Pemeriksaan CHE (kolinesterase). Ini penting karena bila kadar CHE turun, kemampuan sel hati turun, tapi bila CHE normal / tambah turun akan menunjukan prognasis jelek.<br />
Kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretic dan pembatasan garam dalam diet, bila ensefalopati, kadar Na turun dari 4 meg/L menunjukan kemungkinan telah terjadi sindrom hepatorenal.<br />
Pemanjangan masa protrombin merupakan petunjuk adanya penurunan fungsi hati. Pemberian vit K baik untuk menilai kemungkinan perdarahan baik dari varises esophagus, gusi maupun epistaksis.<br />
Peningggian kadar gula darah. Hati tidak mampu membentuk glikogen, bila terus meninggi prognosis jelek.<br />
Pemeriksaan marker serologi seperti virus, HbsAg/HbsAb, HbcAg/ HbcAb, HBV DNA, HCV RNA., untuk menentukan etiologi sirosis hati dan pemeriksaan AFP (alfa feto protein) penting dalam menentukan apakah telah terjadi transpormasi kearah keganasan.</p>
<h1 style="text-align: justify;">ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SIROSIS HEPATIS</h1>
<p style="text-align: justify;">Pengkajian<br />
Riwayat Kesehatan Sekarang<br />
Mengapa pasien masuk Rumah Sakit dan apa keluahan utama pasien, sehingga dapat ditegakkan prioritas masalah keperawatan yang dapat muncul.<br />
Riwayat Kesehatan Sebelumnya<br />
Apakah pasien pernah dirawat dengan penyakit yang sama atau penyakit lain yang berhubungan dengan penyakit hati, sehingga menyebabkan penyakit Sirosis hepatis. Apakah pernah sebagai pengguna alkohol dalam jangka waktu yang lama disamping asupan makanan dan perubahan dalam status jasmani serta rohani pasien.<br />
Riwayat Kesehatan Keluarga<br />
Adakah penyakit-penyakit yang dalam keluarga sehingga membawa dampak berat pada keadaan atau yang menyebabkan Sirosis hepatis, seperti keadaan sakit DM, hipertensi, ginjal yang ada dalam keluarga. Hal ini penting dilakukan bila ada gejala-gejala yang memang bawaan dari keluarga pasien.<br />
Riwayat Tumbuh Kembang<br />
Kelainan-kelainan fisik atau kematangan dari perkembangan dan pertumbuhan seseorang yang dapat mempengaruhi keadaan penyakit, seperti ada riwayat pernah icterus saat lahir yang lama, atau lahir premature, kelengkapan imunisasi, pada form yang tersedia tidak terdapat isian yang berkaitan dengan riwayat tumbuh kembang.<br />
Riwayat Sosial Ekonomi<br />
Apakah pasien suka berkumpul dengan orang-orang sekitar yang pernah mengalami penyakit hepatitis, berkumpul dengan orang-orang yang dampaknya mempengaruhi perilaku pasien yaitu peminum alcohol, karena keadaan lingkungan sekitar yang tidak sehat.<br />
Riwayat Psikologi<br />
Bagaimana pasien menghadapi penyakitnya saat ini apakah pasien dapat menerima, ada tekanan psikologis berhubungan dengan sakitnya. Kita kaji tingkah laku dan kepribadian, karena pada pasien dengan sirosis hepatis dimungkinkan terjadi perubahan tingkah laku dan kepribadian, emosi labil, menarik diri, dan depresi. Fatique dan letargi dapat muncul akibat perasaan pasien akan sakitnya. Dapat juga terjadi gangguan body image akibat dari edema, gangguan integument, dan terpasangnya alat-alat invasive (seperti infuse, kateter). Terjadinya perubahan gaya hidup, perubaha peran dan tanggungjawab keluarga, dan perubahan status financial (Lewis, Heitkemper, &amp; Dirksen, 2000).<br />
Pemeriksaan Fisik<br />
Kesadaran dan keadaan umum pasien<br />
Perlu dikaji tingkat kesadaran pasien dari sadar &#8211; tidak sadar (composmentis &#8211; coma) untuk mengetahui berat ringannya prognosis penyakit pasien, kekacuan fungsi dari hepar salah satunya membawa dampak yang tidak langsung terhadap penurunan kesadaran, salah satunya dengan adanya anemia menyebabkan pasokan O2 ke jaringan kurang termasuk pada otak.<br />
Tanda &#8211; tanda vital dan pemeriksaan fisik Kepala &#8211; kaki<br />
TD, Nadi, Respirasi, Temperatur yang merupakan tolak ukur dari keadaan umum pasien / kondisi pasien dan termasuk pemeriksaan dari kepala sampai kaki dan lebih focus pada pemeriksaan organ seperti hati, abdomen, limpa dengan menggunakan prinsip-prinsip inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi), disamping itu juga penimbangan BB dan pengukuran tinggi badan dan LLA untuk mengetahui adanya penambahan BB karena retreksi cairan dalam tubuh disamping juga untuk menentukan tingakat gangguan nutrisi yanag terjadi, sehingga dapat dihitung kebutuhan Nutrisi yang dibutuhkan.<br />
Hati : perkiraan besar hati, bila ditemukan hati membesar tanda awal adanya cirosis hepatis, tapi bila hati mengecil prognosis kurang baik, konsistensi biasanya kenyal / firm, pinggir hati tumpul dan ada nyeri tekan pada perabaan hati. Sedangkan pada pasien Tn.MS ditemukan adanya pembesaran walaupun minimal (USG hepar). Dan menunjukkan sirosis hati dengan hipertensi portal.<br />
Limpa: ada pembesaran limpa, dapat diukur dengan 2 cara :<br />
-Schuffner, hati membesar ke medial dan ke bawah menuju umbilicus (S-I-IV) dan dari umbilicus ke SIAS kanan (S V-VIII)<br />
-Hacket, bila limpa membesar ke arah bawah saja.<br />
Pada abdomen dan ekstra abdomen dapat diperhatikan adanya vena kolateral dan acites, manifestasi diluar perut: perhatikan adanya spinder nevi pada tubuh bagian atas, bahu, leher, dada, pinggang, caput medussae dan tubuh bagian bawah, perlunya diperhatikan adanya eritema palmaris, ginekomastia dan atropi testis pada pria, bias juga ditemukan hemoroid.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalah Keperawatan yang Muncul<br />
Perubahan status nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia dan gangguan gastrointestinal.<br />
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan berat badan.<br />
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan edema.</p>
<p style="text-align: justify;">Intervensi<br />
Diagnosa Keperawatan 1. :<br />
Perubahan status nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat (anoreksia, nausea, vomitus)<br />
Tujuan : Status nutrisi baik<br />
Intervensi :<br />
Kaji intake diet, Ukur pemasukan diit, timbang BB tiap minggu.<br />
Rasional: Membantu dalam mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. Kondisi fisik umum, gejala uremik (mual, muntah, anoreksia, dan ganggguan rasa) dan pembatasan diet dapat mempengaruhi intake makanan, setiap kebutuhan nutrisi diperhitungan dengan tepat agar kebutuhan sesuai dengan kondisi pasien, BB ditimbang untuk mengetahui penambahan dan penuruanan BB secara periodik.<br />
Berikan makanan sedikit dan sering sesuai dengan diet.<br />
Rasional: Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik.<br />
Tawarkan perawatan mulut (berkumur/gosok gigi) dengan larutan asetat 25 % sebelum makan. Berikan permen karet, penyegar mulut diantara makan.<br />
Rasional: Membran mukosa menjadi kering dan pecah. Perawatan mulut menyejukkan, dan membantu menyegarkan rasa mulut, yang sering tidak nyaman pada uremia dan pembatasan oral. Pencucian dengan asam asetat membantu menetralkan ammonia yang dibentuk oleh perubahan urea (Black, &amp; Hawk, 2005).<br />
Identifikasi makanan yang disukai termasuk kebutuhan kultural.<br />
Rasional: Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam perencanaan makan, maka dapat meningkatkan nafsu makan pasien.<br />
Motivasi pasien untuk menghabiskan diet, anjurkan makan-makanan lunak.<br />
Rasional: Membantu proses pencernaan dan mudah dalam penyerapan makanan, karena pasien mengalami gangguan sistem pencernaan.<br />
Berikan bahan penganti garam pengganti garam yang tidak mengandung amonium.<br />
Rasional: Garam dapat meningkatkan tingkat absorsi dan retensi cairan, sehingga perlu mencari alternatif penganti garam yang tepat.<br />
Berikan diet 1700 kkal (sesuai terapi) dengan tinggi serat dan tinggi karbohidrat.<br />
Rasional: Pengendalian asupan kalori total untuk mencapai dan mempertahankan berat badan sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah<br />
Berikan obat sesuai dengan indikasi : Tambahan vitamin, thiamin, besi, asam folat dan Enzim pencernaan.<br />
Rasional: Hati yang rusak tidak dapat menyimpan Vitamin A, B kompleks, D dan K, juga terjadi kekurangan besi dan asam folat yang menimbulkan anemia. Dan Meningkatkan pencernaan lemak dan dapat menurunkan diare.<br />
Kolaborasi pemberian antiemetik<br />
Rasional: untuk menghilangkan mual / muntah dan dapat meningkatkan pemasukan oral.</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosa Keperawatan 2. :<br />
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan berat badan.<br />
Tujuan : Peningkatan energi dan partisipasi dalam aktivitas.<br />
Intervensi :<br />
Tawarkan diet tinggi kalori, tinggi protein (TKTP).<br />
Rasional : Memberikan kalori bagi tenaga dan protein bagi proses penyembuhan.<br />
Berikan suplemen vitamin (A, B kompleks, C dan K)<br />
Rasional : Memberikan nutrien tambahan.<br />
Motivasi pasien untuk melakukan latihan yang diselingi istirahat<br />
Rasional : Menghemat tenaga pasien sambil mendorong pasien untuk melakukan latihan dalam batas toleransi pasien.<br />
Motivasi dan bantu pasien untuk melakukan latihan dengan periode waktu yang ditingkatkan secara bertahap.<br />
Rasional : Memperbaiki perasaan sehat secara umum dan percaya diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosa Keperawatan 3. :<br />
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan edema.<br />
Tujuan : Integritas kulit baik<br />
Intervensi :<br />
Batasi natrium seperti yang diresepkan.<br />
Rasional : Meminimalkan pembentukan edema.<br />
Berikan perhatian dan perawatan yang cermat pada kulit.<br />
Rasional : Jaringan dan kulit yang edematus mengganggu suplai nutrien dan sangat rentan terhadap tekanan serta trauma.<br />
Ubah posisi tidur pasien dengan sering.<br />
Rasional : Meminimalkan tekanan yang lama dan meningkatkan mobilisasi edema.<br />
Timbang berat badan dan catat asupan serta haluaran cairan setiap hari.<br />
Rasional : Memungkinkan perkiraan status cairan dan pemantauan terhadap adanya retensi serta kehilangan cairan dengan cara yang paling baik.<br />
Lakukan latihan gerak secara pasif, tinggikan ekstremitas edematus.<br />
Rasional : Meningkatkan mobilisasi edema.<br />
Letakkan bantalan busa yang kecil dibawah tumit, maleolus dan tonjolan tulang lainnya.<br />
Rasional : Melindungi tonjolan tulang dan meminimalkan trauma jika dilakukan dengan benar.</p>
<div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to Asuhan Keperawatan Pada Pasien Sirosis Hepatis</h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hiperemesis-gravidarum/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/morning-sickness1-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Hiperemesis Gravidarum" title="Asuhan Keperawatan Hiperemesis Gravidarum" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hiperemesis-gravidarum/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Hiperemesis Gravidarum</a></h4><p>Askep Hiperemesis Gravidarum A. Pengertian Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/bagaimana-penanganan-otitis-externa/"  rel="bookmark"><img src="http://www.asuhankeperawatan.net/wp-content/uploads/2011/08/Otitis-Externa-300x222.jpg" alt="Bagaimana Penanganan Otitis externa?" title="Bagaimana Penanganan Otitis externa?" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/bagaimana-penanganan-otitis-externa/"  rel="bookmark">Bagaimana Penanganan Otitis externa?</a></h4><p>Otitis externa merupakan proses peradangan dan infeksi pada EAC (External Auditori Canal). Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus merupakan organisme yang paling sering ditemukan pada infeksi ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bronkiektasis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" title="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru) A. Pengertian Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hipertensi/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/hipertensi-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Hipertensi" title="Asuhan Keperawatan Hipertensi" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hipertensi/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Hipertensi</a></h4><p>ASKEP HIPERTENSI I. PENGERTIAN Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-eklamsia-post-partum/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/pre+eklamsia+kehamilan-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum" title="Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-eklamsia-post-partum/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum</a></h4><p>Pengertian Eklamsia adalah Penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam nifas dengan hipertensi, oedema dan proteinuria (Obtetri Patologi,R. Sulaeman Sastrowinata, 1981 ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-pasien-sirosis-hepatis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Infeksi Masa Nifas</title>
		<link>http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/</link>
		<comments>http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 02:02:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[Abortus]]></category>
		<category><![CDATA[Aerob]]></category>
		<category><![CDATA[Bakteri]]></category>
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[Clostridium Welchii]]></category>
		<category><![CDATA[Droplet]]></category>
		<category><![CDATA[Endometrium]]></category>
		<category><![CDATA[Escherichia Coli]]></category>
		<category><![CDATA[Gram Positif]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi masa nifas]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi nifas]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi traktus urinarius]]></category>
		<category><![CDATA[kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuman]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Nifas]]></category>
		<category><![CDATA[Patogen]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[Perineum]]></category>
		<category><![CDATA[Rektum]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Sarung Tangan]]></category>
		<category><![CDATA[Sering]]></category>
		<category><![CDATA[Sinus]]></category>
		<category><![CDATA[Steril]]></category>
		<category><![CDATA[Streptococus]]></category>
		<category><![CDATA[traktus urinarius]]></category>
		<category><![CDATA[Usus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bidandesa.tk/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman – kuman ke dalam alat – alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam nifas atau morbiditas puerperalis meliputi demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare, morbiditas puerperalis ialah kenaikan suhu sampai 380 C atau lebih selama 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/nifas.jpg" ><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-115" title="Infeksi Masa Nifas " src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/nifas-150x150.jpg" alt="Infeksi Masa Nifas " width="150" height="150" /></a><strong>Infeksi masa nifas</strong> adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman  – kuman ke dalam alat – alat genital pada waktu persalinan dan nifas.  Demam nifas atau morbiditas puerperalis meliputi demam dalam masa nifas  oleh sebab apapun. Menurut Joint Committee on Maternal Welfare,  morbiditas puerperalis ialah kenaikan suhu sampai 380 C atau lebih  selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum, dengan mengecualikan  hari pertama.</p>
<p>B. Penyebab</p>
<p>Infeksi  nifas umumnya disebabkan oleh bakteri yang dalam keadaan normal berada  dalam usus dan jalan lahir. Gorback mendapatkan dari 70 % biakan serviks  normal dapat pula ditemukan bakteri anaerob dan aerob patogen. Kuman  anerob adalah kokus gram positif (Peptostreptokokus, Peptokokus,  Bakteroides dan Clostridium). Kuman aerob adalah bermacam gram positif  dan E. coli. Selain itu, infeksi nifas dapat pula disebabkan oleh :</p>
<p>-  Streptococus haemolyticus aerobicus, ini merupakan penyebab infeksi  yang berat, khususnya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen (dari  penderita lain, alat atau kain yang tidak steril, infeksi tenggorokan  orang lain)</p>
<p>- Staphylococus aureus, kuman ini biasanya  menyebabkan infeksi terbatas, walaupun kadang – kadang menjadi sebab  infeksi umum. Banyak ditemukan di rumah sakit.</p>
<p>- Escherichia  coli, Kuman ini umumnya berasal dari kandung kencing atau rektum dan  dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan  endometrium. Kuman ini merupakan sebab dari infeksi traktus urinarius.</p>
<p>-  Clostridium welchii, infeksi kuman yang bersifat anerobik jarang  ditemukan tetapi sangat berbahaya. Infeksi lebih sering terjadi pada  abortus kriminalis.</p>
<p>C. Cara terjadinya infeksi :</p>
<p>1. Tangan  pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan  dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina dalam  uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alt – alt yang  dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman –  kuman.</p>
<p>2. Droplet infection</p>
<p>Sarung tangan atau alat – alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan penolong.</p>
<p>3. Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman pathogen, berasal dari  penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa  dibawa aliran udara kemana-mana.<br />
4. Coitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.<br />
5. Infeksi intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada  waktu berlangsungnya persalinan. Infeksi intrapartum biasanya terjadi  pada partus lama, apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan beberapa  kali dilakukan pemeriksaan dalam. Gejala-gejala ialah kenaikan suhu,  biasanya disertai dengan leukositosis dan takikardia; denyut jantung  janin dapat meningkat pula. Air ketuban biasa menjadi keruh dan bau.</p>
<p>D. Faktor Predisposisi</p>
<p>Faktor predisposisi yang terpenting pada infeksi nifas ialah :</p>
<p>1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita, seperti  perdarahan banyak, pre-eklamsia, juga infeksi lain, seperti pneumonia,  penyakit jantung, dan sebagainya.<br />
2. Partus lama, terutama dengan ketuban pecah lama.<br />
3. Tindakan bedah vaginal, yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir.<br />
4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban, dan bekuan darah.</p>
<p>E. Golongan Infeksi Nifas</p>
<p>Dapat  dibagi dalam 2 golongan : yaitu (1) infeksi yang terbatas pada  perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium ; dan (2) penyebaran  dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, melalui jalan limfe, dan  melalui permukaan endometrium.</p>
<p>1. Infeksi pada perineum, vulva, vagina, seviks, dan endometrium</p>
<p>Vulvitis</p>
<p>Pada  infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitarnya  membengkak, tepi luka menjadi merah dan bengkak ; jahitan ini mudah  terlepas dan luka yang terbuka menjadi ulkus dan mangaluarkan pus.</p>
<p>Vaginitis</p>
<p>Infeksi  vagina dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui  perineum. Permukaan mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus, dan  getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Penyebaran dapat  terjadi, tetapi pada umumnya infeksi tinggal terbatas.</p>
<p>Servisitis</p>
<p>Infeksi  sering juga terjadi, akan tetapi biasanya tidak menimbulkan banyak  gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung kedasar  ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium.</p>
<p>Endometritis</p>
<p>Jenis  infeksi yang paling sering ialah endometritis. Kuman-kuman memasuki  endometrium, biasanya pada luka bekas Insersio plasenta, dan dalam waktu  singkat mengikutsertakan seluruh endometrium.</p>
<p>2. Penyebaran melalui pembuluh-pembuluh darah</p>
<p>Septikemia dan piemia</p>
<p>Ini  merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman-kuman yang sangat  pathogen biasanya Streptococcus haemolyticus golongan A. Infeksi ini  sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi  nifas.</p>
<p>Pada septicemia kuman-kuman dari sarangnya di uterus,  langsung masuk keperedaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum.  Adanya septicemia dapat dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman  dari darah. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena  diuterus serta sinus-sinus pada bekas tempat plasenta. Tromboflebitis  ini menjalar ke vena uterine, vena hipogastrika, dan/atau vena ovarii  (tromboflebitis pelvika). Dari tempat-tempat thrombus itu embolus kecil  yang mengandung kuman-kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus  masuk keperedaran darah umum dan dibawa oleh aliran darah  ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak, jantung, dan  sebagainya, dan mengakibatkan terjadinya abses-abses ditempat-tempat  tersebut. Keadaan ini dinamakan piemia.</p>
<p>Penyebaran melalui jalan limfe dan jalan lain</p>
<p>Peritonitis</p>
<p>Infeksi  nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe didalam uterus langsung  mencapai peritoneum dan menyebabkan peritonitis, atau melalui jaringan  diantara kedua lembar ligamentum latum yang menyebabkan parametritis (  sellulitis pelvika).</p>
<p>Parametritis (sellulitis pelvika)</p>
<p>Peritonitis dapat pula terjadi melalui salpingo-ooforitis atau sellulitis pelvika.</p>
<p>Infeksi jaringan ikat pelvis dapat terjadi melalui tiga jalan yakni :</p>
<p>1. Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis.</p>
<p>2. Penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai kedasar ligamentum.</p>
<p>3. Penyebaran sekunder dari tromboflebitis pelvika.</p>
<p>Penyebaran melalui permukaan endometrium</p>
<p>Salpingitis, ooforitis</p>
<p>Kadang-kadang walaupun jarang, infeksi yang menjalar ketuba Fallopii, malahan ke ovarium.</p>
<p>F. Gambaran Klinik</p>
<p>Infeksi pada perineum, vulva, vagina, dan serviks</p>
<p>Gejalanya  berupa rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi, dan kadang-kadang  perih bila kencing. Bilamana getah radang bisa keluar, biasanya  keadaannya tidak berat suhu sekitar 38° C, dan nadi dibawah 100 per  menit. Bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan dan getah radang tidak  dapat keluar, demam bisa naik sampai 39-40°C dengan kadang-kadang  disertai menggigil.</p>
<p>Endometritis</p>
<p>Uterus pada endometritis  agak membesar, serta nyeri pada perabaan, dan lembek. Mulai hari ke-3  suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu  dan nadi menurun dan dalam kurang dari satu minggu keadaan sudah normal  kembali. Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang  berbau.</p>
<p>Septikemia dan piemia</p>
<p>Sampai tiga hari postpartum  suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai dengan menggigil.  Selanjutnya, suhu berkisar antara 39-40°C, keadaan umum cepat memburuk,  nadi menjadi cepat (140-160/menit atau lebih). Penderita dapat meninggal  dalam 6-7 hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi  seperti piemia. Pada piemia penderita tidak lama postpartum sudah merasa  sakit, perut nyeri dan suhu agak meningkat. Akan tetapi, gejala-gejala  infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah  kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Satu cirri  khusus pada piemia ialah bahwa berulang-ulang suhu meningkat dengan  cepat disertai dengan menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu.</p>
<p>Peritonitis</p>
<p>Peritonitis  nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga  ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika.</p>
<p>Peritonitis,  yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis.  Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik.  Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat pathogen dan  merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan  kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita  yang mulanya kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka  dingin, terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica.</p>
<p>Sellulitis Pelvika</p>
<p>Sellulitis  pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila  suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai dengan rasa nyeri  dikiri atau dikanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut  dicurigai terhadap kemungkinan sellulitis pelvika. Pada pemeriksaan  dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri disebelah uterus dan tahanan  ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas keberbagai  jurusan. Ditengah-tengah jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses.  Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri.</p>
<p>Salpingitis dan ooforitis</p>
<p>Gejala salpingitis dan ooforitis tidak dapat dipisahkan dari pelvio-peritonitis.</p>
<p>G. Diagnosis</p>
<p>Kebanyakan  demam setelah persalinan disebabkan oleh infeksi nifas. Paling sering  ditemukan ialah radang saluran pernafasan (bronchitis, pneumonia, dan  sebagainya), pielonefritis, dan mastitis.</p>
<p>Dalam minggu pertama  biasanya gejala-gejala setempat belum menunjukkan dengan nyata adanya  perluasan infeksi ; yang lebih penting ialah gejala umum. Seorang  penderita dengan infeksi yang meluas diluar porte d’entrée tampaknya  sakit, suhu meningkat dengan kadang-kadang disertai menggigil, nadi  cepat, keluhannya juga lebih banyak.</p>
<p>H. Prognosis</p>
<p>Menurut  derajatnya septicemia merupakan infeksi yang paling berat dengan  mortalitas tinggi, dan yang segera diikuti oleh peritonitis umum. Pada  Pelvioperitonitis dan Sellulitis pelvis bahaya kematian dapat diatasi  dengan pengobatan yang sesuai. Abses memerlukan tindakan untuk  mengeluarkan nanahnya.</p>
<p>I. Pencegahan</p>
<p>Selama kehamilan</p>
<p>Oleh  karena anemia merupakan predisposisi untuk infeksi nifas, harus  diusahakan untuk memperbaikinya. Keadaan gizi juga merupakan factor  penting, karenanya diet yang baik harus diperhatikan.</p>
<p>Coitus pada hamil tua sebaiknya dilarang karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi.</p>
<p>Selama persalinan</p>
<p>Usaha-usaha  pencegahan terdiri dari membatasi sebanyak mungkin kuman-kuman dalam  jalan lahir, menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut,  menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin, dan mencegah  terjadinya perdarahan banyak. Semua petugas dalam kamar bersalin harus  menutup hidung dan mulut dengan masker, alat-alat, kain-kain yang  dipakai dalam persalinan harus suci hama. Pemeriksaan dalam hanya boleh  dilakukan jika perlu, terjadinya perdarahan harus dicegah sedapat  mungkin dan transfusi darah harus diberikan menurut keperluan.</p>
<p>Selama nifas</p>
<p>Sesudah  partus terdapat luka-luka dibeberapa tempat pada jalan lahir. Pada hari  pertama postpartum harus dijaga agar luka-luka ini tidak dimasuki  kuman-kuman dari luar. Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas  jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas sehat.</p>
<p>J. Pengobatan</p>
<p>Antibiotika  memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan infeksi nifas.  Karena pemeriksaan-pemeriksaan ini memerlukan waktu, maka pengobatan  perlu dimulai tanpa menunggu hasilnya. Dalam hal ini dapat diberikan  penicillin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas,  seperti ampicillin dan lain-lain.</p>
<p>Disamping pengobatan dengan  antibiotika, tindakan-tindakan untuk mempertinggi daya tahan badan tetap  perlu dilakukan. Perawatan baik sangat penting, makanan yang mengandung  zat-zat yang diperlukan hendaknya diberikan dengan cara yang cocok  dengan keadaan penderita, dan bila perlu transfusi darah dilakukan.</p>
<p>Pada  sellulitis pelvika dan pelvioperitonitis perlu diamat-amati dengan  seksama apakah terjadi abses atau tidak. Jika terjadi abses, abses harus  dibuka dengan menjaga supaya nanah tidak masuk kedalam rongga  peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai.</p>
<p>PAYUDARA BERUBAH MENJADI MERAH, PANAS, DAN TERASA SAKIT</p>
<p>A. Pembendungan ASI (Zogstuwing, engorgement of the breast)</p>
<p>Sesudah  bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun  dalan 2 – 3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi  keluarnya Pituitary Lactogenic Hormone (prolaktin) waktu hamil, dan  sangat dipengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi  sekresi prolaktinoleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus –  alveolus kelenjar mamae terisi dengan air susu, tetapi untuk  mengeluarkannya dibutuhkan reflek yang menyebabkan kontraksi sel – sel  mioepitelialyang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar –  kelenjar tersebut. Reflek ini timbul jika bayi menyusu.</p>
<p>Penyebab :</p>
<p>- Bayi tidak menyusu dengan baik sehingga kelenjar – kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna</p>
<p>- Putting susu datar sehingga menyebabkan bayi sukar menyusui</p>
<p>Komplikasi :</p>
<p>- Payudara terasa panas, keras pada perabaan</p>
<p>- Nyeri pada payudara</p>
<p>- Putting susu datar sehingga menyebabkan bayi sukar menyusui</p>
<p>- Pengeluaran air susu terhalang sebab duktuli laktiferi menyempit karena pembesaran vena serta pembuluh limfe</p>
<p>Penanganan :</p>
<p>- Menyokong mamae dengan BH yang nyaman</p>
<p>- Memberikan analgetika</p>
<p>- Sebelyum bayi menyusu pengeluaran air susu dengan pijatan yang ringan</p>
<p>- Kompres dingin</p>
<p>B. Mastitis</p>
<p>Mastitis adalah peradangan pada payudara. Kejadian ini biasanya terjadi 1 – 3 minggu setelah postpartum.</p>
<p>Klasifikasi :</p>
<p>1. mastitis dibawah areola mamae</p>
<p>2. Mastitis di tengah – tengah mamae</p>
<p>3. mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar – kelenjar antara mamae dan otot – otot dibawahnya</p>
<p>Penyebab :</p>
<p>- Staphylococus aureus</p>
<p>- Sumbatan saluran susu yang berlanjut</p>
<p>Komplikasi :</p>
<p>- Mamae membesar, nyeri, merah, dan menmbengkak</p>
<p>- Temperatur badan ibu tinggi kadang disertai menggigil</p>
<p>- Bila mastitis nerlanjut dapat menyebabkan abses payudara</p>
<p>Pencegahan :</p>
<p>- Perawatan putting susu pada waktu laktasi</p>
<p>- Perawat yang memberikan pertolongan pada ibunyang menyusui bayinya harus bebas dari infeksi dengan stafilokokus</p>
<p>- Bila ada retak atau luka pada putting sebaiknya bayinya jangan menyusu pada mamae yang bersangkutan</p>
<p>- Air susu ibu dikeluarkan dengan pijatan</p>
<p>Pengobatan :</p>
<p>- berikan antibiotika</p>
<p>- Bila terdapat abses, pus perlu dikeluarkan</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>1. Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Bina Pustaka Sarwono. Jakarta</p>
<p>2. Wiknjosastro, Hanifa. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatus. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta</p>
<p>3.  Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan  Maternal Dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.  Jakarta</p>
<div id="seo_alrp_related"><h4>Posts Related to <i>Infeksi Masa Nifas</i></h4><ul><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-eklamsia-post-partum/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/pre+eklamsia+kehamilan-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum" title="Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-eklamsia-post-partum/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Eklamsia Post Partum</a></h4><p>Pengertian Eklamsia adalah Penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam nifas dengan hipertensi, oedema dan proteinuria (Obtetri Patologi,R. Sulaeman Sastrowinata, 1981 ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-tetanus-neonatorum/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/imun1-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum" title="Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-pada-tetanus-neonatorum/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan pada Tetanus Neonatorum</a></h4><p>Tetanus Neonatorum A. PENGERTIAN Tetanus berasal dari kata tetanos (Yunani) yang berarti peregangan. Tetanus Neonatorum : Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/diagnosa-keperawatan-penyakit-peritonitis/"  rel="bookmark"><img src="http://www.asuhankeperawatan.net/wp-content/uploads/2011/08/Peritonitis.jpg" alt="Diagnosa Keperawatan penyakit Peritonitis" title="Diagnosa Keperawatan penyakit Peritonitis" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/diagnosa-keperawatan-penyakit-peritonitis/"  rel="bookmark">Diagnosa Keperawatan penyakit Peritonitis</a></h4><p>Peritonitis adalah peradangan peritoneum, selaput serosa garis Itu bagian dari rongga perut. Peritonitis dapat bersifat lokal atau umum, dan mungkin disebabkan hasil dari infeksi (Seringkali ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hiperemesis-gravidarum/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/morning-sickness1-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Hiperemesis Gravidarum" title="Asuhan Keperawatan Hiperemesis Gravidarum" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-hiperemesis-gravidarum/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Hiperemesis Gravidarum</a></h4><p>Askep Hiperemesis Gravidarum A. Pengertian Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena ...</p></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_thumb" style="float:left; margin: 0 10px 5px 0; border: 2px solid #eee ; padding: 2px;"><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark"><img src="http://www.bidandesa.tk/wp-content/uploads/2011/10/bronkiektasis-150x150.jpg" alt="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" title="Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)" width="50" height="50"  class="seo_alrp_thumb" /></a> </div><div class="seo_alrp_rl_content"><h4><a href="http://www.bidandesa.tk/2011/10/asuhan-keperawatan-tuberkulosis-paru-tb-paru/"  rel="bookmark">Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru)</a></h4><p>Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru) A. Pengertian Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TB Paru). Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman batang ...</p></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bidandesa.tk/2011/10/infeksi-masa-nifas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

